BANDA ACEH – Gunungan sampah bukan lagi sekadar persoalan kebersihan kota. Di Banda Aceh, ia perlahan berubah menjadi simbol persoalan yang lebih besar: tekanan lingkungan, keterbatasan tata kelola, hingga ancaman terhadap kualitas hidup masyarakat.
Setiap hari, ribuan ton sampah rumah tangga bergerak dari sudut-sudut kota menuju tempat pembuangan akhir. Sebagian berakhir menumpuk tanpa pengolahan maksimal, sebagian lagi mencemari lingkungan dan saluran air.
Di tengah persoalan itu, pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Regional Aceh di Blang Bintang, Aceh Besar, mulai dipandang sebagai harapan baru.
Bagi Wakil Ketua Komisi III DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, proyek tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas pengelolaan sampah biasa. Ia menyebutnya sebagai langkah strategis untuk menjawab persoalan sampah yang semakin kompleks di Banda Aceh dan wilayah sekitarnya.
“Kami dari Komisi III DPRK Banda Aceh menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Aceh dan seluruh pihak terkait atas terealisasinya pembangunan TPST Regional ini. Ini merupakan bentuk komitmen nyata dalam menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang terintegrasi dan ramah lingkungan,” ujar Tuanku Muhammad di Banda Aceh, Jumat (10/4/2026).
Ketika Sampah Menjadi Persoalan Kota Modern
Banda Aceh terus tumbuh sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, jasa, dan perdagangan di Aceh. Pertumbuhan itu membawa dinamika ekonomi baru, tetapi juga menghasilkan volume sampah yang semakin besar setiap tahun.
Masalahnya, sistem pengelolaan sampah di banyak daerah masih bertumpu pada pola lama: kumpul, angkut, lalu buang.
Padahal kota modern membutuhkan pendekatan berbeda — pengolahan berbasis teknologi, pemilahan sejak sumber, hingga pemanfaatan kembali limbah menjadi energi atau produk bernilai ekonomi.
Karena itu, pembangunan TPST Regional Aceh dengan nilai investasi mencapai Rp420 miliar menjadi perhatian besar.
Anggaran jumbo tersebut diharapkan mampu menghadirkan sistem pengolahan sampah yang lebih modern, efektif, dan efisien dibanding pola konvensional selama ini.
“Dengan nilai pembangunan yang cukup besar ini, kami berharap pengelolaan TPST dapat dilakukan secara optimal dan profesional. Sehingga mampu menekan volume sampah secara signifikan serta mendukung terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat,” kata Tuanku Muhammad.
Lebih dari Sekadar Tempat Buang Sampah
TPST Regional Aceh tidak hanya diproyeksikan menjadi lokasi pembuangan akhir. Pemerintah berharap fasilitas itu nantinya mampu menjadi pusat pengolahan sampah terpadu dengan pendekatan berkelanjutan.
Konsep seperti ini sudah mulai diterapkan di berbagai kota besar, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi juga sumber daya yang dapat diolah kembali.
Namun keberhasilan proyek semacam ini tidak hanya bergantung pada teknologi dan anggaran.
Ada faktor lain yang lebih menentukan: perilaku masyarakat.
Tuanku Muhammad menilai pengurangan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga mendukung sistem daur ulang menjadi bagian penting dari keberhasilan TPST.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendukung keberadaan TPST ini, baik melalui pengurangan sampah rumah tangga maupun dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik,” ujarnya.
Menyelamatkan Wajah Kota dan Nilai Sejarah
Di Banda Aceh, persoalan sampah juga menyentuh ruang-ruang yang memiliki nilai simbolik dan sejarah tinggi.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah kawasan dekat titik nol kilometer Kota Banda Aceh yang selama ini kerap dikaitkan dengan persoalan penumpukan sampah.
Bagi sebagian warga, kondisi tersebut menjadi ironi tersendiri. Kawasan yang seharusnya menjadi wajah kota justru kerap diwarnai persoalan lingkungan.
Karena itu, Tuanku Muhammad berharap keberadaan TPST Regional nantinya mampu menjadi solusi nyata terhadap persoalan penumpukan sampah di kawasan strategis kota.[]

