Banda Aceh | KoranAceh.net – Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Daniel Abdul Wahab, menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Banda Aceh harus menjadi momentum refleksi sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan kota.
Pernyataan itu disampaikan Daniel usai mengikuti rangkaian HUT Kota Banda Aceh. Menurutnya, perjalanan panjang Banda Aceh sebagai kota bersejarah harus dijaga melalui kebijakan pembangunan yang adil dan berpihak pada rakyat.
“HUT Banda Aceh harus jadi momen evaluasi, apa yang sudah berhasil kita lanjutkan, dan yang belum harus berani kita perbaiki demi rakyat,” ujar Daniel.
Dari Kutaraja hingga Kota Peradaban Islam
Secara historis, Banda Aceh—yang dahulu dikenal sebagai Kutaraja—merupakan pusat kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam, sekaligus simpul perdagangan dan keilmuan Islam di kawasan Asia Tenggara. Identitas tersebut masih kuat hingga kini, tercermin dari keberadaan Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi ikon kota.
Banda Aceh juga menjadi saksi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar melalui Tsunami Aceh 2004. Namun, dari bencana tersebut, kota ini bangkit dan menjadi simbol ketangguhan serta keberhasilan rekonstruksi.
“Sejarah panjang ini harus menjadi pijakan kita. Banda Aceh bukan hanya kota pemerintahan, tapi kota peradaban yang punya nilai dan identitas kuat,” tegas Daniel.
Pembangunan Harus Menyentuh Gampong
Daniel mengakui bahwa berbagai capaian pembangunan telah terlihat, namun ia menekankan pentingnya pemerataan hingga ke tingkat gampong.
“Banyak kemajuan, tapi tantangan masih nyata. Fokus kita ke depan adalah memastikan pembangunan benar-benar dirasakan sampai ke tingkat gampong.”
Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya terlihat di pusat kota, tetapi harus dirasakan langsung oleh masyarakat di seluruh wilayah Banda Aceh.
Prioritas: Pelayanan Publik, Ekonomi Rakyat, dan Pendidikan
Dalam pandangannya, arah pembangunan Banda Aceh ke depan harus fokus pada pelayanan publik yang cepat, penguatan ekonomi masyarakat kecil, serta pendidikan yang merata.
“Prioritas kami jelas: pelayanan publik yang cepat, ekonomi rakyat yang tumbuh, dan pendidikan yang berkualitas serta merata, serta pembangunan berkeadilan.”
Ia juga menegaskan bahwa DPRK tetap menjalankan fungsi pengawasan secara ketat terhadap jalannya pemerintahan kota.
“Kami mengapresiasi yang sudah berjalan baik, tapi pengawasan tetap kami perkuat agar setiap kebijakan tepat sasaran dan berpihak pada masyarakat.”
Tantangan Keadilan dan Penguatan UMKM
Daniel menilai tantangan utama saat ini bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi memastikan keadilan bagi seluruh warga.
“Tantangan terbesar bukan hanya membangun, tapi memastikan keadilan—agar semua warga merasakan manfaat pembangunan tanpa terkecuali.”
Di sektor ekonomi, ia menekankan pentingnya penguatan UMKM, pasar rakyat, dan pelaku usaha kecil sebagai tulang punggung ekonomi kota.
“Ekonomi harus tumbuh dari bawah. UMKM, pasar rakyat, dan pelaku usaha kecil harus jadi prioritas, bukan hanya sektor besar.”
Peran Anak Muda dan Transparansi Anggaran
Daniel juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan kota.
“Anak muda adalah masa depan kota ini. Kami ingin mereka kreatif, mandiri, dan berani mengambil peran dalam pembangunan.”
Selain itu, transparansi anggaran menjadi komitmen yang tidak bisa ditawar.
“Transparansi bukan pilihan, tapi kewajiban. Setiap rupiah anggaran harus jelas manfaatnya dan bisa dipertanggungjawabkan ke publik.”
Ajakan untuk Seluruh Warga
Menutup pernyataannya, Daniel mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan membangun Banda Aceh.
“Kemajuan kota ini adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa sendiri—partisipasi masyarakat adalah kunci.”
“Banda Aceh adalah kota kita. Mari kita jaga bersama kota tercinta ini,” pungkasnya.[]







