Takengon – Kerja keras tanpa lelah selama empat bulan akhirnya membuahkan hasil. Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat di bawah Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Kodam Iskandar Muda) berhasil menuntaskan pembangunan Jembatan Perintis Garuda III di Kampung Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.
Jembatan gantung yang membentang kokoh di atas Sungai Jamboaye itu kini menjadi simbol bangkitnya konektivitas masyarakat pascabencana. Informasi yang diterima Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Posko Wilayah Aceh pada Minggu (2/8/2026) menyebutkan seluruh pekerjaan konstruksi telah rampung dan siap dimanfaatkan masyarakat.
Keberhasilan tersebut disambut lega oleh seluruh personel TNI yang terlibat dalam pembangunan. Rasa syukur juga terpancar dari wajah masyarakat Kampung Reje Payung dan Kampung Jamat yang selama ini menanti akses penghubung permanen setelah terputus akibat bencana.
Kebahagiaan yang sama dirasakan keluarga besar SD Negeri 10 Linge. Dengan selesainya jembatan tersebut, para guru dan siswa yang selama ini harus menghadapi keterbatasan akses segera dapat kembali menjalankan kegiatan belajar mengajar dalam satu lokasi dengan lebih aman dan nyaman.
Tenaga Ahli Daerah (TAD) Satgas PRR Posko Wilayah Aceh melaporkan bahwa pada Senin (3/8/2026) akan dilaksanakan syukuran sederhana sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus bentuk apresiasi kepada seluruh prajurit TNI dan masyarakat yang bergotong royong menyelesaikan pembangunan jembatan.
Membentang sepanjang bentang utama sekitar 90 meter di atas Sungai Jamboaye, Jembatan Perintis Garuda III tampil kokoh dengan dua kabel utama yang menopang lantai jembatan berwarna hijau muda. Menara jembatan yang dicat merah putih berdiri tegak di kedua sisi, menjadi penanda kuat bahwa negara hadir menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil.
Demikian pula blok angkur yang berfungsi menahan gaya tarik kabel utama turut dicat merah putih, menghadirkan pesan simbolik bahwa pembangunan infrastruktur bukan sekadar pekerjaan teknik, tetapi juga wujud kehadiran negara dalam melindungi dan melayani rakyat.

Kepala Posko Wilayah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Dr. Safrizal ZA, menjelaskan pembangunan jembatan tersebut melibatkan personel Koramil 05/Linge, 12 personel Batalyon Teritorial Pembangunan 854/Dharma Kersaka (Yon TP 854/DK) yang bermarkas di Pameu, Aceh Tengah, seorang personel asistensi Zeni Kodam Iskandar Muda, serta tiga warga setempat yang ikut bergotong royong.
Menurut Safrizal, kehadiran TNI di lokasi bencana merupakan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat. Program Jembatan Perintis Garuda merupakan program strategis nasional yang bertujuan membuka kembali akses masyarakat di daerah terpencil maupun wilayah terdampak bencana.
“Alhamdulillah, berkat kerja keras TNI bersama masyarakat serta dukungan semua pihak, Jembatan Perintis Garuda III di Linge telah selesai dibangun. Kini aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal, baik untuk pendidikan, ekonomi maupun pelayanan sosial lainnya,” ujar Safrizal.
Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri itu menegaskan bahwa Jembatan Perintis Garuda dirancang untuk memulihkan konektivitas, memperlancar mobilitas warga, sekaligus menggerakkan kembali roda perekonomian desa-desa yang sempat terisolasi akibat bencana.
Safrizal juga mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tersebut merupakan buah dari semangat persatuan antara pemerintah, TNI, dan masyarakat.
“Dalam menghadapi persoalan pascabencana, semua pihak harus bersatu. Persatuan akan memperkuat kualitas penanganan dan mempercepat pemulihan. Seperti kata pepatah, bersatu kita teguh, ribut-ribut kita runtuh,” katanya sambil mengacungkan jempol sebagai bentuk penghargaan kepada prajurit TNI dan masyarakat Kecamatan Linge yang telah bekerja bersama mewujudkan jembatan harapan bagi warga.(*)







