BANDA ACEH – Di tengah kehidupan kota yang terus bergerak cepat, perhatian terhadap anak-anak yatim dinilai tetap menjadi bagian penting dari jati diri masyarakat Aceh.
Nilai kepedulian sosial itulah yang coba dirawat kembali oleh Pemerintah Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, melalui pencanangan Hari Anak Yatim di tingkat gampong.
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Anggota DPRK Banda Aceh, Januar Hasan, yang menilai inisiatif itu bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi simbol kepedulian sosial yang perlu terus dijaga di tengah masyarakat.
“Upaya ini sangat baik karena menunjukkan kepedulian terhadap anak yatim. Nilai-nilai seperti ini perlu terus dijaga dan diperkuat dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar politisi Partai Demokrat tersebut di Banda Aceh, Sabtu (7/3).
Ketika Gampong Menjadi Ruang Kepedulian
Di Aceh, gampong bukan hanya struktur pemerintahan paling bawah.
Ia adalah ruang sosial tempat tradisi gotong royong, solidaritas, dan nilai keagamaan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Karena itu, menurut Januar Hasan, program seperti Hari Anak Yatim memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kegiatan tahunan.
Ia menilai perhatian terhadap anak yatim merupakan bagian dari tanggung jawab sosial masyarakat yang telah lama mengakar dalam budaya Aceh.
Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan sosial, keberadaan program berbasis kepedulian seperti ini dianggap penting untuk menjaga ikatan sosial antarwarga.
“Jika dilakukan secara rutin, kegiatan ini dapat menjadi tradisi positif dalam membangun solidaritas sosial serta memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat,” katanya.
Anak Yatim dan Tanggung Jawab Bersama
Dalam masyarakat Aceh yang kuat dengan nilai-nilai Islam, anak yatim memiliki posisi yang sangat dihormati.
Perhatian terhadap mereka tidak hanya dipandang sebagai kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari ajaran agama yang menekankan pentingnya kasih sayang dan perlindungan terhadap kelompok rentan.
Karena itu, Januar berharap pencanangan Hari Anak Yatim tidak berhenti sebagai agenda simbolik semata.
Menurutnya, program tersebut seharusnya berkembang menjadi kegiatan berkelanjutan yang benar-benar memberi dampak nyata bagi anak-anak yatim.
Mulai dari santunan, dukungan pendidikan, pembinaan keagamaan, hingga pendampingan sosial yang lebih luas.
Dengan begitu, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan suasana kebersamaan sesaat, tetapi juga membantu membangun masa depan anak-anak yatim di lingkungan masyarakat.
Gampong Jawa dan Upaya Menjaga Tradisi Sosial
Pemerintah Gampong Jawa yang dipimpin Musrifun menyatakan komitmennya untuk menjadikan Hari Anak Yatim sebagai agenda tahunan.
Harapannya, kegiatan tersebut dapat meningkatkan kepedulian masyarakat sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Bagi banyak pihak, langkah seperti ini menjadi penting di tengah kehidupan perkotaan yang perlahan mulai bergerak lebih individual.
Tradisi saling peduli yang dahulu tumbuh kuat di lingkungan gampong dinilai perlu terus dijaga agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa semangat kebersamaan masih hidup di tengah warga.
Merawat Nilai di Tengah Perubahan Zaman
Di tengah modernisasi dan perkembangan kota, Banda Aceh menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan nilai-nilai sosial masyarakat.
Karena itu, menurut sejumlah tokoh masyarakat, kegiatan seperti Hari Anak Yatim memiliki makna penting sebagai pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga rasa empati dan solidaritas sosial.
Bagi Januar Hasan, perhatian terhadap anak yatim menjadi salah satu ukuran sejauh mana masyarakat masih menjaga nilai kemanusiaan dan kepedulian bersama.
Dan di tengah berbagai dinamika kehidupan modern, nilai-nilai seperti itulah yang menurutnya perlu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.[]

