AcehPolitikSosial

Jelang Ramadhan, Daniel A Wahab Bagikan Ribuan Sembako dan Serap Aspirasi Warga Banda Aceh

×

Jelang Ramadhan, Daniel A Wahab Bagikan Ribuan Sembako dan Serap Aspirasi Warga Banda Aceh

Sebarkan artikel ini

Banda Aceh | KoranAceh.net — Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Daniel A Wahab, menggelar kegiatan silaturahmi jelang Ramadhan yang dirangkai dengan pembagian ribuan paket sembako kepada warga. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka tradisi Meugang menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H/2026 M.

Kegiatan yang berlangsung besok Sabtu pagi hingga sore, 14 Februari 2026, dipusatkan di Balai Restorasi Daniel Abdul Wahab, Lampaseh Aceh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh.

Selain berbagi paket sembako, Daniel juga memanfaatkan momen tersebut untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat melalui agenda reses wakil rakyat.

Menurut Daniel A Wahab, kegiatan ini bukan sekadar seremoni menyambut Ramadhan, tetapi bagian dari komitmennya untuk selalu hadir di tengah masyarakat.

Persiapan paket Sembako (Koran Aceh)

“Ini momen berbagi berkah silaturahmi jelang Ramadhan dan sekaligus bukti bahwa kami selalu hadir untuk rakyat, bukan hanya hadir saat pemilu,” ujar Daniel, yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPD NasDem Kota Banda Aceh.Jum’at (13/2) malam.

Daniel berharap konstituen di daerah Pemilihan ya, bisa mengikuti kegiatan tersebut untuk menyampaikan aspirasi. Selain mereka bakal menerima bantuan sembako untuk kebutuhan Meugang puasa.

“Masyarakat diharapkan bisa menyampaikan berbagai persoalan lingkungan, sosial, dan kebutuhan pelayanan publik secara langsung”, ujar Daniel.

Daniel A Wahab, Wakil Ketua DPRK Banda Aceh

Tradisi Meugang sendiri merupakan kearifan lokal masyarakat Aceh yang memiliki makna kebersamaan, berbagi, dan mempererat tali silaturahmi menjelang Ramadhan.

Melalui kegiatan ini, nilai budaya Meugang dipadukan dengan fungsi representasi wakil rakyat dalam menyerap aspirasi konstituen.

Daniel menegaskan bahwa Balai Restorasi Lampaseh Aceh memang disiapkan sebagai ruang terbuka bagi warga untuk menyampaikan keluhan, saran, dan harapan kepada wakil mereka di parlemen kota.

Kegiatan ini sekaligus menjadi contoh bagaimana tradisi lokal dapat menjadi medium efektif dalam membangun komunikasi dua arah antara masyarakat dan wakil rakyat.[]