KoranAceh.Net | Bireuen — Akses penyeberangan Bireuen–Takengon di tiga titik lokasi—Desa Beunyot, Teupin Mane, dan Paya Cut—sempat ditutup total pada Rabu, 10 Desember 2025, sekitar pukul 14.20 WIB. Penutupan itu dipicu beredarnya sebuah video di media sosial yang memuat narasi bernada kebencian dan tudingan adanya tarif penyeberangan yang dianggap tidak wajar.
Video tersebut menuding pekerja penyeberangan mematok harga hingga Rp70.000 per orang. Narasi itulah yang kemudian memicu reaksi para pekerja penyeberangan dan berujung pada aksi penutupan seluruh jalur selama beberapa puluh menit.
Muspika Turun Tangan, Mediasi Dilakukan di Kantor Camat Juli
Sekitar pukul 14.25 WIB, Kanit Intelkam Polsek Juli melakukan upaya penggalangan agar para pekerja penyeberangan hadir dalam mediasi di Kantor Camat Juli. Pada pukul 14.30 WIB, seluruh koordinator penyeberangan hadir dan rapat dipimpin Muspika Kecamatan Juli, yang terdiri dari Camat, Danramil, dan Polsek.
Dalam mediasi, Muspika menegaskan bahwa pelayanan penyeberangan selama masa bencana adalah bagian dari kerja kemanusiaan.
“Jangan hanya karena video atau narasi yang belum tentu benar, masyarakat luas menjadi korban karena akses ditutup. Banyak saudara kita yang sangat membutuhkan penyeberangan,” ujar pihak Muspika.
Koordinator Bantah Pungutan Rp70 Ribu
Perwakilan koordinator penyeberangan menyampaikan bahwa tudingan dalam video tersebut tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Menurut mereka, tarif penyeberangan selama ini mengikuti ketentuan normal yang juga telah didokumentasikan.
Mereka mengaku kecewa karena narasi di video tersebut seolah-olah menyalahkan pekerja penyeberangan, padahal mereka sering membantu tanpa memungut biaya jika penumpang benar-benar tidak mampu.
“Bahkan kami menyisihkan rezeki untuk menyediakan makanan gratis bagi penyeberang yang belum makan,” jelas salah satu koordinator.
Penyebab Kisruh: Perselisihan antara RBT Lokal dan RBT Takengon
Koordinator juga menjelaskan adanya insiden pada Selasa, 9 Desember 2025, yaitu keributan antara sopir RBT lokal dan RBT dari Takengon. Insiden itu diduga terkait dugaan tarif tinggi oleh oknum RBT setempat dan larangan terhadap sopir RBT Takengon untuk mengambil penumpang di Beunyot.
Menurut koordinator, narasi dalam video yang beredar justru menuding pekerja penyeberangan, padahal persoalan itu terkait oknum RBT dan bukan bagian dari operasional penyeberangan resmi.
Akses Dibuka Kembali, Penyeberangan Normal
Setelah Muspika memberikan pemahaman dan meminta para koordinator untuk tidak melakukan aksi yang merugikan masyarakat banyak, seluruh koordinator sepakat untuk membuka kembali jalur penyeberangan.
Mereka juga diminta membuat video klarifikasi mengenai tarif resmi agar informasi tidak simpang siur.
Pada pukul 14.50 WIB, seluruh akses penyeberangan kembali dibuka dan aktivitas berlangsung normal.
Kehadiran Unsur Muspika dan Pekerja
Rapat dihadiri oleh:
- Camat Juli
- Danramil Juli
- Kapolsek Juli (diwakili Kanit Samapta)
- Koordinator penyeberangan tali seling
- Koordinator boat Dusun Mane
- Koordinator boat Desa Paya Cut
- Pekerja penyeberangan
Catatan Penting: Perlu Pengawasan Tarif dan Takedown Video Bermuatan Kebencian
Dalam laporan internal disebutkan beberapa poin penting:
- Video berisi ujaran kebencian dan tuduhan tarif tak wajar dinilai ikut memicu potensi konflik antarwarga Bireuen, Bener Meriah, dan Takengon.
- Diduga tarif tak wajar dilakukan oleh pihak RBT tertentu, bukan oleh pekerja penyeberangan.
- Disarankan dilakukan takedown video bermuatan provokatif untuk mencegah konflik horizontal.
- Banyak transaksi antara penumpang dan oknum RBT dilakukan secara diam-diam, sehingga menyulitkan pengawasan aparat.
- Perlu penetapan tarif tertulis dan pengawasan berkelanjutan agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan.

