Editorial

Ilusi Penyelamat yang Diciptakan Kekuasaan

×

Ilusi Penyelamat yang Diciptakan Kekuasaan

Sebarkan artikel ini

EDITORIAL | KoranAceh.Net – Kekuasaan, dalam banyak babak sejarah, jarang bekerja secara terang-terangan. Ia lebih sering bergerak dengan cara halus, perlahan, namun sangat efektif: menciptakan masalah terlebih dahulu, lalu hadir sebagai penyelamat. Pola ini tak selalu tampak di permukaan, tetapi jejaknya mudah terbaca ketika krisis demi krisis justru lahir dari kebijakan yang lahir di ruang-ruang kekuasaan itu sendiri.

Di tengah bencana, ketika masyarakat berada dalam titik paling rapuh, bantuan tiba disambut sebagai karunia. Kehadiran pejabat di atas mobil, disambut teriakan warga yang haus perhatian, seolah menjadi penegasan bahwa negara hadir. Namun di balik kerumunan itu sering ada sesuatu yang lebih gelap: sebuah realitas di mana kerusakan lingkungan, kegagalan infrastruktur, serta lambatnya mitigasi adalah akibat dari keputusan-keputusan politik yang tak pernah mau dievaluasi.

Begitulah cara ilusi bekerja. Ketika bantuan dikemas sebagai kemurahan hati, bukan sebagai kewajiban; ketika kunjungan pejabat diberi panggung lebih besar daripada penderitaan warga; ketika pencitraan mengalahkan pemulihan—maka masyarakat perlahan kehilangan kemampuan melihat akar persoalan. Mereka diarahkan untuk bersyukur atas sesuatu yang seharusnya mereka tuntut sebagai hak.

Krisis yang lahir dari kelalaian justru melahirkan momen “penyelamatan” yang dijadikan modal politik. Rasa sakit warga berubah menjadi dekorasi untuk memperkuat legitimasi. Bencana bukan lagi tragedi yang harus dicegah, melainkan panggung yang harus dikelola.

Masyarakat perlu waspada. Bantuan memang harus diterima—karena nyawa tidak boleh menjadi tumbal politik. Tetapi kita juga tidak boleh lupa bertanya:

Siapa yang menciptakan kondisi ini? Mengapa kerusakan terus berulang? Mengapa negara baru hadir ketika semuanya sudah hancur?

Editorial ini adalah pengingat bahwa pertolongan yang dibungkus dramatis bisa saja menutup luka yang ditimbulkan oleh tangan yang sama. Di atas jalan yang dipenuhi lumpur dan air mata, kita tidak boleh hanya menyambut para pejabat yang berdiri di atas mobil. Kita harus menuntut lebih: keadilan ekologis, perbaikan kebijakan, dan keberpihakan yang bukan sekadar tontonan.

Karena di titik ini, yang paling dibutuhkan masyarakat bukanlah pahlawan sementara, melainkan perubahan nyata yang mencegah bencana berikutnya lahir dari kelalaian yang sama.[]