Koranaceh.net | Ketika Muhtar Lubis menulis tentang watak asli orang Indonesia puluhan tahun lalu, banyak yang menganggapnya terlalu keras, bahkan sinis. Ia menyebut enam sifat utama: munafik, tidak bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya tahayul, artistik, dan berjiwa lemah. Dulu, sebagian pembaca mungkin merasa itu hanyalah kritik berlebihan seorang sastrawan yang gelisah. Namun, melihat tingkah-laku sebagian pejabat hari ini, tampaknya kata-kata itu justru menemukan pembenarannya sendiri.
1. Munafik: Antara Pidato dan Perbuatan
Kita sering menyaksikan pejabat berdiri lantang di podium, berbicara tentang integritas, pengabdian, anti-korupsi, dan keadilan sosial. Tapi begitu turun dari mimbar, perilaku mereka justru mengkhianati apa yang baru saja mereka ucapkan. Mereka menampilkan wajah ganda—satu untuk publik, satu untuk kepentingan dirinya sendiri.
Munafik dalam konteks ini bukan sekadar kebohongan sehari-hari, tetapi ketidakjujuran struktural: mengelola citra, bukan amanah.
2. Tidak Tanggung Jawab: Krisis Selalu Salah “Pihak Lain”
Di negara lain, pejabat buru-buru pasang badan ketika terjadi kegagalan. Di sini, yang terjadi justru sebaliknya. Setiap bencana dikaitkan dengan “force majeure”. Setiap skandal disebut “kesalahpahaman”. Setiap kegagalan dipasrahkan pada “takdir”.
Rakyat menunggu seseorang berkata: “Ini salah saya, saya bertanggung jawab.” Tapi kalimat itu nyaris punah dari kosa kata pejabat kita.
3. Jiwa Feodal: Kekuasaan sebagai Singgasana
Feodalisme di negeri ini tak pernah benar-benar mati; ia hanya berganti bentuk. Dulu berupa raja dan bangsawan. Kini berupa jabatan dan kekuasaan administratif. Pejabat merasa tak boleh dikritik, seakan martabatnya lebih tinggi dari warga yang mengajinya.
Jiwa feodal membuat mereka lupa bahwa jabatan adalah amanat, bukan warisan. Dan rakyat adalah majikan, bukan bawahan.
4. Percaya Tahayul: Menggantikan Rasionalitas dengan Simbolisme
Masih banyak pejabat yang lebih percaya pada ritual simbolik ketimbang data. Lebih serius memotong pita daripada memperbaiki sistem. Lebih sibuk mengadakan seremoni ketimbang membaca laporan teknis. Mereka berlindung di balik narasi “harga diri”, “martabat bangsa”, atau bahkan “kutukan alam” alih-alih menyentuh akar masalah sesungguhnya.
Dalam suasana seperti ini, rasionalitas sering dikalahkan oleh mitos modern.
5. Artistik: Hebat Membuat Pertunjukan
Muhtar Lubis menyebut bangsa ini artistik—pandai membuat ritual, pesta, upacara, dan drama. Pada masa kini, sifat itu menjelma menjadi keahlian membangun pencitraan. Pejabat kita lihai berpose di tengah lumpur bencana, pandai bermain kamera, jago membuat headline.
Negara sering terasa seperti panggung teater: skenario rapi, pemeran lengkap, tapi kenyataan di belakang panggung berantakan.
6. Jiwa Lemah: Mudah Takut, Mudah Tunduk
Kelemahan jiwa bukan berarti tak punya kekuatan fisik, melainkan rapuh dalam moralitas. Mudah menyerah pada tekanan, mudah dibeli oleh kepentingan, dan mudah bungkam meski melihat ketidakadilan.
Karena jiwa lemah inilah, pejabat bisa membiarkan kesalahan terus berlangsung tanpa keberanian memperbaikinya.
Cermin Itu Masih Retak
Barangkali Muhtar Lubis memang tidak sepenuhnya benar tentang semua orang Indonesia, tetapi kelakuan sebagian pejabat hari ini telah membuat kata-katanya terasa seperti cermin yang sulit dihindari. Cermin itu memperlihatkan sisi gelap yang selama ini kita tutupi dengan slogan-slogan manis. Namun, kita bukan untuk mengutuk, melainkan untuk menggugah.
Sebab bangsa tidak bergerak maju dengan menutup mata, melainkan dengan berani bercermin—meski yang terlihat tidak selalu indah.[]

