KoranAceh.Net | Banda Aceh – Data terbaru Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh per 7 Desember 2025 pukul 20.18 menunjukkan skala bencana yang semakin mengkhawatirkan. Lebih dari 1,87 juta jiwa di 225 kecamatan telah terdampak banjir dan longsor yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh dalam dua pekan terakhir.
Dari laporan resmi tersebut, tercatat 465.423 kepala keluarga (KK) terdampak langsung, sementara 249.465 KK atau 945,434 jiwa kini mengungsi di 1.978 titik pengungsian yang tersebar di berbagai kabupaten/kota.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Posko mencatat angka korban terus bergerak naik. Hingga Minggu malam, jumlah korban tercatat:
- Meninggal dunia: 382 jiwa
- Hilang: 99 jiwa
- Luka berat: 482 jiwa
- Luka ringan: 3,789 jiwa
Aceh Utara menjadi wilayah dengan angka korban meninggal tertinggi, disusul Aceh Timur dan Aceh Tamiang yang juga mengalami kerusakan paling parah pada jaringan perumahan dan infrastruktur.
Kerusakan Meluas, Fasilitas Umum Lumpuh
Selain korban jiwa dan pengungsian massal, kerusakan fisik tercatat masif:
- 279 sekolah rusak
- 205 kantor rusak
- 209 tempat ibadah rusak
- 15 Pempes/dayah rusak
- 126 RS/Puskemas rusak
- 461 Titik Jalan Rusak
- 332 jembatan rusak berat
- 157.404 unit rumah terendam atau rusak
- 56,274 ekor ternak mati
- 14.741 hektar kebun rusak
- 65.105 hektare sawah rusak atau panen atau tertimbun lumpur
- 40.328 hektar tambak rusak atau tertimbun lumpue
Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Lhokseumawe, dan Aceh Tamiang masuk dalam status Tanggap Darurat, sementara beberapa wilayah lain seperti Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Aceh Besar berada dalam kategori Siaga Darurat.
Aceh Tamiang dan Aceh Utara Paling Parah
Aceh Tamiang menjadi wilayah terdampak terbesar dengan lebih dari 1,85 juta jiwa tercatat sebagai korban terdampak bencana, termasuk sebagian besar warganya yang kini mengungsi. Disusul Aceh Utara yang mencatat kerusakan fasilitas umum terluas dan jumlah titik pengungsian terbanyak.
Bencana Melampaui Kapasitas Daerah
Dengan total hampir dua juta jiwa terdampak, bencana hidrometeorologi tahun ini menjadi salah satu krisis terbesar di Aceh sejak banjir bandang 2006 dan banjir besar Pidie Jaya 2017. Pemerintah daerah telah menyampaikan permohonan tambahan dukungan logistik, alat berat, dan percepatan bantuan nasional.
Namun hingga kini, status Bencana Nasional belum ditetapkan pemerintah pusat, meski desakan dari berbagai tokoh, lembaga kemanusiaan, hingga DPR Aceh terus menguat.
Kebutuhan Mendesak: Perahu, Logistik, dan Peralatan SAR
Banyak daerah, terutama di Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang, masih terisolir akibat jalan tertimbun lumpur dan jembatan runtuh. Daerah-daerah ini membutuhkan:
- Perahu karet
- Makanan siap saji
- Air bersih
- Tenda dan selimut
- Alat berat untuk membuka akses
- Peralatan SAR khusus untuk evakuasi korban tertimbun
Kondisi cuaca yang masih ekstrem juga diperkirakan memperlambat proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Aceh dalam Situasi Genting
Laporan malam ini mempertegas bahwa bencana yang melanda Aceh sudah berada pada tingkat krisis multidimensi—melumpuhkan akses, memutus jaringan listrik, menenggelamkan rumah, merusak fasilitas pendidikan, dan menimbulkan risiko kemanusiaan besar.
Dengan jumlah korban meninggal yang terus bertambah dan puluhan ribu warga masih terperangkap lumpur tebal, pemerintah daerah kembali mengingatkan bahwa bantuan nasional dan internasional perlu dipercepat demi mencegah bertambahnya korban.[]

