![]() |
| Ketua Umum Pengurus Pusat IKA USK, Amal Hasan. (Foto: Dok. Koran Aceh). |
Jelang pemilihan rektor, IKA USK desak MWA independen dan peringatkan agar proses bebas dari intervensi politik demi martabat almamater.
koranaceh.net | Banda Aceh – Ikatan Alumni Universitas Syiah Kuala (IKA USK) mendesak agar proses penjaringan dan pemilihan rektor periode 2026-2031 dijalankan secara transparan, demokratis, dan bebas dari intervensi politik. Desakan ini disampaikan menyusul telah dimulainya tahapan pemilihan oleh Majelis Wali Amanat (MWA) USK.
Ketua Umum Pengurus Pusat IKA USK, Amal Hasan, dalam keterangan yang diterima koranaceh.net, pada Selasa, 17 September 2025, secara khusus meminta Majelis Wali Amanat sebagai penyelenggara untuk bertindak independen. Ia memperingatkan agar MWA tidak menjadi perpanjangan tangan kelompok kepentingan tertentu yang dapat mencederai proses demokrasi di tingkat kampus.
Peringatan ini dianggap penting lantaran pemilihan kali ini merupakan momen historis. Ini adalah kali pertama USK memilih rektor di bawah status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), dimana MWA memegang peranan sentral. Status PTNBH memberikan otonomi lebih luas bagi universitas, sehingga proses pemilihan pemimpinnya menjadi sorotan utama.
“Jangan ada pihak-pihak yang melakukan upaya politisasi dalam tahapan dan proses penjaringan, pemilihan, dan penetapan calon Rektor. Majelis Wali Amanat sebagai penyelenggara harus benar-benar bertindak independen dan tidak menjadi underbow kampus atau kelompok tertentu, biarkan semua berjalan secara fair dan terbuka sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Amal Hasan.
Selain independensi, IKA USK juga menyoroti aspek legitimasi keanggotaan MWA itu sendiri. Amal Hasan menekankan, setiap individu dalam MWA harus dipastikan memiliki legalitas formal yang sah dalam merepresentasikan unsur yang diwakilinya, baik itu unsur pemerintah, tokoh masyarakat, senat akademik, maupun mahasiswa dan alumni.
Menurutnya, MWA tidak boleh menjadi lembaga eksklusif yang sulit diakses. Ia berharap MWA dapat menjalankan fungsinya sebagai wali yang benar-benar membawa amanah dari seluruh sivitas akademika dan pemangku kepentingan USK.
“Kita berharap sebagai penyelenggara, MWA jangan sampai menjadi lembaga yang eksklusif sehingga menjadi sulit diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Kita berharap MWA betul-betul bisa menjadi Wali Amanah dalam membawa aspirasi seluruh stakeholder sivitas akademika,” tegasnya.
Amal Hasan, yang juga menjabat sebagai Ketua Perhumas Aceh, menambahkan bahwa IKA USK pada prinsipnya mendukung pernyataan Ketua MWA USK, Safrizal ZA, yang menginginkan proses pemilihan berjalan demokratis. Ia sepakat bahwa proses yang bermartabat akan menghasilkan rektor dengan karakter kepemimpinan yang kuat.
“Jadi IKA-USK sepakat dan mendukung sikap dan pernyataan Ketua MWA USK agar pemilihan rektor untuk periode mendatang dapat berjalan secara demokratis dan bisa menghasilkan figur rektor yang memiliki karakter kepemimpinan yang kuat serta mampu mengangkat harkat dan martabat Almamater Universitas Syiah Kuala,” pungkasnya. [*]







