EditorialNews

Aceh Donatur Setia Sumut: Terima Kasih, Bobby!

×

Aceh Donatur Setia Sumut: Terima Kasih, Bobby!

Sebarkan artikel ini

Hamdan Budiman

*Pemred Koran Aceh

Ribut razia plat BL oleh Bobby singkap fakta: Rp 520 miliar pajak kendaraan Aceh justru masuk ke Sumut tiap tahun, Aceh rugi besar.

koranaceh.net | Banda Aceh ‒ Jagat maya mendadak riuh. Nama Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara, jadi bahan maki-makian. Semua bermula dari aksinya “merazia” kendaraan berplat BL yang beroperasi di Medan. Mulai dari anggota DPR RI, DPRK Banda Aceh, hingga tokoh publik seperti Haji Uma dan bahkan teungku dan tokoh ormas, OKP, semuanya bereaksi keras. Bobby dianggap arogan, seolah ingin merendahkan Aceh.

Namun di tengah gaduh itu, ada satu hal yang luput: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari cara Bobby ini? Sebab bila kita mau jujur, tindakan Bobby bukan sekadar urusan razia plat. Ia sedang menyingkap luka lama Aceh: betapa ratusan miliar pajak rakyat kita justru mengalir setiap tahun ke kas Sumatera Utara, bukan ke tanah sendiri.

Mari kita buka datanya, meskipun sekedar asumsi; Jumlah kendaraan penumpang pribadi berplat BL di Aceh sekitar 210 ribu unit. Tetapi, berdasarkan pengamatan lapangan, 35 persen orang Aceh justru menggunakan plat BK. Itu berarti sekitar 147 ribu mobil orang Aceh berplat BK.

Jika rata-rata pajak satu unit kendaraan Rp 3,5 juta per tahun, maka sekitar Rp 520 miliar pajak rakyat Aceh justru masuk ke kas Sumut setiap tahun.Angka yang tidak main-main, setara hampir sepertiga total APBD sejumlah kabupaten di Aceh.

Kebocoran itu makin terlihat ketika kita bandingkan APBD/APBA Tahun 2025. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB): Sumut Rp 1,74 triliun, Aceh Rp 431 miliar. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB): Sumut Rp 1,66 triliun, Aceh Rp 340 miliar. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB): Sumut Rp 1,53 triliun, Aceh Rp 490 miliar. Pajak Alat Berat: Sumut Rp 1,08 miliar, Aceh … nyaris tak berarti.

Dari angka ini terlihat jelas: Sumut menjadi kaya, Aceh tetap miskin. Dan salah satu penyumbangnya adalah orang Aceh sendiri yang lebih bangga menggunakan plat BK ketimbang BL.

Mengapa? Sebagian menyebut soal gengsi: plat BK dianggap lebih bergengsi di jalanan Medan maupun Aceh. Ada pula yang beralasan soal “praktis”—lebih mudah mengurus kendaraan di Sumut dan tak ada pemeriksaan di perbatasan.

Apapun alasannya, satu hal pasti: Aceh dirugikan besar-besaran. Ironinya, semua orang memaki Bobby. Padahal, tanpa sadar, Bobby baru saja memberi Aceh cermin besar: “Lihatlah, betapa banyak uangmu yang justru memperkaya Sumut.”

Maka wajar bila hari ini kita berkata: terima kasih, Bobby. Bukan karena razianya, tapi karena ia mengingatkan kita bahwa Aceh sedang bocor, dan kebocoran itu terjadi bukan karena penjajahan, melainkan karena pilihan kita sendiri.

Kini pertanyaannya: apakah Pemerintah Aceh berani memperbaiki sistem pelayanan, memberi insentif, dan menumbuhkan kebanggaan memakai plat BL? Atau kita akan terus menjadi donatur setia Sumut, sambil sibuk memaki Bobby yang justru membuka mata kita?