EkonomiInternasionalUtama

Konflik AS-Israel-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Ekonomi RI Terancam

×

Konflik AS-Israel-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Ekonomi RI Terancam

Sebarkan artikel ini

Jakarta | KoranAceh.net – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali mengguncang pasar global.

Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia serta meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan perlambatan ekonomi.

Harga minyak mentah Brent tercatat naik 0,4 persen menjadi 110,19 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 0,8 persen menjadi 113,31 dolar AS per barel.

Investor Waspada, Pasar Global Tertekan

Situasi ini membuat investor di berbagai negara mulai bersikap hati-hati. Ketidakpastian geopolitik dinilai berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi global, melemahkan pasar saham, serta menekan nilai tukar di negara berkembang.

Indonesia sebagai negara berkembang juga dinilai rentan terhadap dampak lanjutan dari gejolak tersebut.

Dampak ke Indonesia: Inflasi hingga Beban APBN

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai Indonesia perlu segera memperkuat ketahanan ekonomi domestik.

Menurutnya, lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global dapat memberikan tekanan langsung terhadap inflasi, subsidi energi, hingga daya beli masyarakat.

“Ketika harga minyak melonjak, dampaknya tidak hanya pada BBM, tetapi juga biaya transportasi, harga pangan, tarif distribusi, hingga beban subsidi pemerintah,” ujarnya, Selasa, 7 April 2026.

Ia menambahkan, harga minyak yang mendekati 110 dolar AS per barel berpotensi memberikan tekanan besar terhadap APBN serta biaya logistik nasional.

Pemerintah Diminta Perkuat Fondasi Ekonomi

Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, Indonesia dinilai sangat rentan jika konflik berlangsung lama.

Karena itu, pemerintah diminta segera mengambil langkah strategis, seperti:

  • Memperkuat cadangan energi nasional
  • Menjaga stabilitas pasokan pangan
  • Memastikan distribusi barang tetap lancar

Selain itu, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan dinilai krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.

Dorong Hilirisasi dan Ekonomi Daerah

Noviardi juga menekankan pentingnya mempercepat hilirisasi industri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Ia menilai daerah seperti Jambi perlu mulai membangun struktur ekonomi yang lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada komoditas primer seperti sawit, batu bara, dan karet.

“Daerah harus memperkuat sektor hilir, UMKM, pangan, dan industri pengolahan agar lebih tahan terhadap guncangan global,” katanya.