EditorialNews

Dunia Sedang Berbalik Arah

×

Dunia Sedang Berbalik Arah

Sebarkan artikel ini

Oleh Hamdan Budiman

Pemred Koran Aceh

Ada saat ketika sejarah mencatat bahwa penguasa menjadi pelindung rakyatnya, suara moral dijadikan kompas kebijakan, dan perdamaian menjadi cita-cita bersama. Namun, hari-hari ini dunia justru menampilkan wajah yang berbalik arah. 

Di tengah tragedi kemanusiaan di Gaza, di mana genosida berlangsung terang-terangan oleh Israel, mayoritas penguasa dunia memilih diam. Pembantaian anak-anak, perempuan, dan orang tua yang tak berdaya dianggap sebagai angka statistik, bukan lagi jerit kemanusiaan.

Kontras dengan itu, masyarakat sipil dari berbagai belahan dunia tampil sebagai aktor moral yang sesungguhnya. Mereka menggelar aksi protes, melakukan solidaritas lintas batas, hingga mengorganisir pelayaran internasional untuk memecah blokade Gaza. 

Di jalanan, di ruang publik, hingga di dunia maya, suara rakyat berteriak lebih lantang daripada para penguasa yang justru sibuk menjaga kenyamanan kursi kekuasaan mereka.

Hanya segelintir negara seperti Yaman dan Iran yang dengan nyata menunjukkan keberpihakan pada rakyat Gaza. Sementara negara lain, khususnya di Eropa, justru menutup telinga dari jeritan rakyatnya sendiri. 

Alih-alih menekan agresor, sebagian malah mengirim senjata untuk memperpanjang penderitaan. 

Inilah wajah politik global yang dipenuhi kemunafikan—senjata yang dibeli dengan pajak rakyat tak digunakan untuk perdamaian, melainkan untuk melanggengkan kekuasaan dan kepentingan geopolitik sempit.

Ketidakpedulian penguasa itu melahirkan gelombang protes global. Dari Asia Selatan hingga Eropa, rakyat bangkit menuntut keadilan. Di Nepal, kemarahan rakyat meledak hingga membakar gedung perdana menteri dan parlemen. 

Di Indonesia, ribuan orang ditangkap, puluhan mahasiswa dan pelajar meregang nyawa di tangan aparat. Di Filipina, Bangladesh, Sri Lanka, hingga Prancis, suara rakyat kian membesar, menggerogoti legitimasi rezim yang zalim.

Fenomena ini adalah tanda: dunia sedang berbalik arah. Ketika para penguasa abai, rakyatlah yang mengambil alih panggung sejarah. 

Ketika elit politik sibuk bersekongkol dengan senjata, masyarakat sipil justru membangun jembatan solidaritas. Politik bukan lagi monopoli istana dan parlemen, melainkan lahir dari jalanan, kampus, dan forum-forum rakyat.

Kebangkitan global ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan sejati tak pernah ada di tangan penguasa yang menindas, melainkan pada rakyat yang berani melawan. 

Dan hari-hari ini, sejarah tengah menulis bab baru: dunia sedang bergerak, berbalik arah, menuju perlawanan terhadap ketidakadilan, meski jalan yang ditempuh penuh pengorbanan.[]