News

Ramadhan Tenang di Banda Aceh: Apresiasi untuk Polisi, Tapi PR Keamanan Belum Usai

×

Ramadhan Tenang di Banda Aceh: Apresiasi untuk Polisi, Tapi PR Keamanan Belum Usai

Sebarkan artikel ini

BANDA ACEH | KoranAceh.Net — Di tengah dinamika sosial yang kerap memanas saat bulan suci, suasana Ramadhan di Banda Aceh tahun ini terasa berbeda. Lebih tenang. Lebih terkendali. Lebih “terjaga”. Di balik kondisi itu, muncul satu pengakuan dari parlemen kota.

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Daniel Abdul Wahab, secara terbuka memberikan apresiasi terhadap kinerja Polresta Banda Aceh yang dinilai berhasil menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) selama bulan suci Ramadhan.

Menurut Daniel, kondisi Banda Aceh sepanjang Ramadhan menunjukkan indikator positif: minim gangguan keamanan, berkurangnya aksi kriminalitas jalanan, serta meningkatnya rasa aman di tengah masyarakat.

“Situasi yang relatif aman dan kondusif ini tentu tidak hadir begitu saja. Ada kerja keras aparat di lapangan yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Patroli

Di balik suasana kondusif tersebut, publik sebenarnya menyaksikan perubahan pola pendekatan keamanan. Polisi tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga ruang sosial.

Patroli malam, pengawasan titik rawan, hingga pengamanan aktivitas ibadah seperti tarawih dan sahur menjadi rutinitas yang semakin intens. Namun yang menarik, pendekatan humanis juga mulai terasa—komunikasi dengan masyarakat, pembinaan remaja, hingga pencegahan dini terhadap potensi konflik.

Hasilnya? Banda Aceh tidak hanya aman secara statistik, tetapi juga terasa aman secara psikologis.

Ramadhan Tanpa “Suara Bising” Kriminalitas

Biasanya, Ramadhan identik dengan peningkatan aktivitas malam hari yang rawan memicu gangguan keamanan: balap liar, petasan berlebihan, hingga potensi tawuran remaja.

Namun tahun ini, fenomena tersebut relatif terkendali. Jalanan yang biasanya “hidup” dengan potensi gesekan, justru lebih tertib. Aktivitas masyarakat berjalan tanpa tekanan rasa was-was.

Ini menjadi sinyal bahwa strategi pengamanan yang diterapkan tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif.

Apresiasi atau Alarm Dini?

Meski apresiasi disampaikan, Daniel mengingatkan bahwa keberhasilan ini tidak boleh membuat semua pihak lengah. Stabilitas kamtibmas adalah kerja berkelanjutan, bukan capaian musiman.

“Keamanan ini harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan, terutama setelah Ramadhan ketika aktivitas masyarakat kembali normal,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi penting. Pasalnya, pasca-Ramadhan sering kali menjadi fase krusial—ketika pengawasan menurun, sementara potensi gangguan justru meningkat.

Kolaborasi Jadi Kunci

Di sisi lain, keberhasilan menjaga keamanan tidak hanya ditopang oleh aparat. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penentu.

Kesadaran warga untuk menjaga lingkungan, melaporkan aktivitas mencurigakan, serta menahan diri dari tindakan yang berpotensi mengganggu ketertiban menjadi fondasi utama.

Dalam konteks ini, keberhasilan Polresta Banda Aceh bisa dibaca sebagai hasil kolaborasi—antara aparat dan masyarakat.

Ujian Berikutnya

Ramadhan mungkin telah berlalu, tetapi ujian sebenarnya justru dimulai setelahnya. Apakah kondisi kondusif ini bisa dipertahankan dalam situasi normal?

Atau justru kembali ke pola lama: aman saat momen besar, longgar saat hari biasa?

Jawabannya akan menentukan apakah Banda Aceh benar-benar bergerak menuju kota yang stabil secara permanen—atau hanya “tenang sesaat” di bulan suci.

Satu hal yang pasti, apresiasi telah diberikan. Kini publik menunggu: konsistensi.[]