Peta Manuel Godinho abadikan pertempuran 1577 di Johor. Bukti Aceh aktor utama geopolitik laut penantang klaim kolonial Portugis.
KoranAceh.Net | Sejarah – Peta yang digambar oleh Manuel Godinho bukan sekadar ilustrasi geografis. Ia adalah arsip kekuasaan. Dalam guratan tinta dan layar-layar kapal yang berderet rapat, peta ini merekam satu momen krusial di Asia Tenggara: pertempuran laut antara armada Kekaisaran Portugis dan armada Kesultanan Aceh Darussalam pada 1 Januari 1577 M, di perairan Johor, tepat di mulut Sungai Johor, di selatan Pulau Tekong—kawasan yang kini berada di antara Changi dan Pengarang, Singapura.
Pada abad ke-16, laut bukan ruang netral. Ia adalah medan perebutan pengaruh, jalur emas rempah-rempah, dan nadi geopolitik global. Portugis, setelah menaklukkan Malaka pada 1511 di bawah Alfonso de Albuquerque, berusaha mengunci Selat Malaka sebagai koridor dagang kekaisaran. Namun mereka berhadapan dengan satu kekuatan regional yang tidak tunduk: Aceh Darussalam.
Baca Juga :
Dalam pertempuran yang digambarkan Godinho, armada Portugis dipimpin oleh Mathias de Albuquerque, keponakan Afonso de Albuquerque—sebuah detail yang menegaskan kesinambungan proyek imperial Portugis di Asia. Armada ini membawa doktrin laut Eropa: formasi tempur teratur, kapal berat, dan meriam jarak jauh.
Namun Aceh bukan lawan yang asing dengan modernitas maritim.
Kesultanan Aceh Darussalam, pada paruh kedua abad ke-16, telah menjelma sebagai kekuatan laut Islam terbesar di Asia Tenggara. Armada Aceh dalam pertempuran ini terdiri dari galley, galleon, serta bastard Ottoman galleys—jenis kapal perang hasil adaptasi teknologi maritim Kesultanan Utsmani yang telah lama menjalin hubungan militer, diplomatik, dan keagamaan dengan Aceh.
Galley Aceh, dengan dayung dan layar, unggul dalam manuver di perairan sempit dan muara sungai. Sementara galleon-galleon Aceh membawa meriam berat yang tidak kalah dari Portugis. Kehadiran kapal “bastard Ottoman” menandakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar konflik lokal: Aceh adalah bagian dari jaringan geopolitik dunia Islam, terhubung dengan Istanbul, Gujarat, dan Laut Merah.
Peta Godinho memperlihatkan kapal-kapal Aceh tidak dalam posisi bertahan, tetapi menyongsong pertempuran. Formasi mereka memotong jalur Portugis, memanfaatkan arus, muara sungai, dan pengetahuan lokal atas perairan Johor. Ini adalah perang laut yang cerdas—perpaduan teknologi asing dan strategi Nusantara.
Pertempuran di Johor pada 1577 tidak bisa dibaca semata sebagai bentrokan militer. Ia adalah simbol perlawanan terhadap kolonialisme awal Eropa di Asia Tenggara. Aceh tidak sekadar mempertahankan wilayah, tetapi menantang klaim Portugis atas Selat Malaka sebagai “laut kekaisaran”.
Baca Juga :
Dalam konteks inilah peta Manuel Godinho menjadi paradoks. Ia dibuat dari sudut pandang Portugis, tetapi tanpa sadar justru mengabadikan satu kenyataan yang ingin mereka tundukkan: Aceh adalah kekuatan laut yang setara, bukan kerajaan pinggiran. Armada yang digambar rapat, meriam yang saling berhadap-hadapan, dan laut yang dipenuhi kapal menunjukkan bahwa dominasi Portugis selalu dipersoalkan—dan sering kali digagalkan.
Hari ini, ketika Johor, Singapura, dan Selat Malaka dipahami sebagai simpul perdagangan global modern, peta ini mengingatkan kita bahwa sejarah kawasan ini dibangun oleh perlawanan, bukan oleh kepatuhan. Aceh tidak hadir sebagai catatan kaki sejarah, melainkan sebagai aktor utama dalam drama besar perebutan laut dunia.
Dan laut—seperti yang selalu ia lakukan—menyimpan ingatan itu, jauh sebelum batas negara modern digambar. []


