KoranAceh.Net | Banda Aceh – Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh berdampak luas dan menelan korban besar. Hingga 14 Desember 2025 pukul 19.00 WIB, tercatat 1.984.018 jiwa terdampak di 18 kabupaten/kota, mendorong DPR RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta penguatan penanganan di tingkat nasional.
Data Posko Terpadu Pemerintah Aceh mencatat 430 orang meninggal dunia, 32 orang hilang, serta 4.319 orang luka-luka. Selain itu, 474.962 jiwa mengungsi di 2.185 titik akibat banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang melanda 225 kecamatan dan 3.678 gampong.
Di tingkat legislatif, anggota Komisi VIII DPR RI menilai skala dampak bencana Aceh tidak dapat ditangani secara normal oleh daerah. DPR mendorong pemerintah pusat memperkuat peran BNPB, mempercepat pembukaan akses, serta memastikan dukungan anggaran dan logistik menjangkau wilayah terisolir.
Sementara itu, BNPB menyatakan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh dan kementerian teknis untuk mempercepat respons darurat. Fokus penanganan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, perlindungan kelompok rentan, serta pemulihan akses jalan dan jembatan.
Kerusakan infrastruktur dilaporkan signifikan. Fasilitas publik terdampak meliputi 258 perkantoran, 287 tempat ibadah, 305 sekolah, 431 pesantren, serta 206 rumah sakit dan puskesmas. Selain itu, 461 titik jalan dan 332 jembatan mengalami kerusakan, menghambat distribusi bantuan.
Bencana juga berdampak pada ekonomi warga. Sebanyak 164.906 rumah rusak, 186.868 ternak terdampak, serta lahan pertanian rusak yang mencakup 89.337 hektare sawah, 21.860 hektare kebun, dan 40.328 hektare tambak.
DPR menegaskan keselamatan warga harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan penanganan bencana. BNPB menyatakan pemutakhiran data terus dilakukan sebagai dasar pengambilan keputusan lanjutan.
Data rinci per kabupaten/kota dapat diakses melalui Portal Satu Data Aceh dan Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh di Kantor Gubernur Aceh.[]

