Sosial

Banjir Bandang Ubah Gampong Lhok Gunci, 85 KK Kehilangan Rumah

×

Banjir Bandang Ubah Gampong Lhok Gunci, 85 KK Kehilangan Rumah

Sebarkan artikel ini
Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir menyerahkan bantuan kepada warga terdampak banjir bandang di lokasi pengungsian warga Gampong Lhok Gunci, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Senin (22/12/2025). (Foto: Dok. TP PKK Aceh).
Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir menyerahkan bantuan kepada warga terdampak banjir bandang di lokasi pengungsian warga Gampong Lhok Gunci, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Senin (22/12/2025). (Foto: Dok. TP PKK Aceh).

Banjir bandang di Sawang, Aceh Utara, mengubah Gampong Lhok Gunci. Sebanyak 85 KK mengungsi setelah permukiman mereka hilang tersapu alur sungai baru.

KoranAceh.Net | Aceh Utara – Banjir bandang yang melanda wilayah Kecamatan Sawang, Aceh Utara, mengubah bentang Gampong Lhok Gunci secara drastis. Permukiman warga yang sebelumnya berada puluhan meter dari alur sungai kini hilang dan tergantikan oleh aliran baru Krueng Sawang.

Hal ini diketahui setelah rombongan Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir bersama Staf Ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhlullah serta pemengaruh (influencer) Cut Bul menyambangi dan menyalurkan bantuan logistik ke lokasi pengungsian warga Lhok Gunci, pada Senin (22/12/2025) malam, di Meunasah Gampong Paya Rubek.

Akses menuju lokasi dilaporkan tidak mudah. Rombongan harus menyeberangi Krueng Sawang yang alurnya berubah akibat banjir bandang. Alur sungai lama tertutup pasir dan batu, sementara alur baru terbentuk di area yang sebelumnya merupakan kebun dan permukiman warga.

Marlina mengatakan sebanyak 85 kepala keluarga (KK) dari Gampong Lhok Gunci kini mengungsi di Meunasah Paya Rubek. “Rumah-rumah mereka hilang tak berbekas digerus derasnya bandang. Kini rumah mereka telah berubah menjadi alur sungai baru,” ujar Kak Na–sapaan akrab Marlina–dalam keterangan resminya yang diterima KoranAceh.Net, pada Selasa (23/12/2025).

Berdasarkan keterangan warga, tutur Kak Na, jarak rumah ke bibir sungai sebelum banjir berkisar 70 hingga 150 meter. Seluruhnya hilang setelah diterjang banjir bandang. Selain itu, sejumlah pusara warga juga dilaporkan ikut tergerus. Sebagian di antaranya pun telah direlokasi karena terbongkar.

Di posko pengungsian, rombongan berdialog dengan warga dan memantau kondisi layanan dasar. Perhatian khusus, ucap Kak Na, perlu diberikan kepada kelompok rentan. Ia meminta petugas kesehatan yang berjaga memastikan ketersediaan obat-obatan. “Jika ada stok yang menipis, segera didata dan dilaporkan ke posko utama,” kata dia.

Kesaksian warga menggambarkan detik-detik awal banjir bandang yang melanda Lhok Gunci. Yusri (39), warga setempat, mengatakan banjir datang sekitar pukul 04.00 WIB saat sebagian besar warga masih berada di dalam rumah. Arus air yang datang tiba-tiba dan sangat deras membuat proses penyelamatan berlangsung dalam kondisi serba terbatas.

Yusri mengaku sempat terpisah beberapa meter dari anaknya yang masih bayi dan balita karena kuatnya terjangan air. “Saya sempat terpisah beberapa meter dengan anak saya yang masih bayi dan balita karena terjangan air sangat deras,” ujarnya. Meski demikian, ia menyebut seluruh anggota keluarganya berhasil diselamatkan, meski sempat terseret arus banjir.

Menurut Yusri, saat hari mulai terang, ketinggian air justru semakin meningkat. Ia mendapati rumah beserta tapak rumahnya telah hilang, tersapu banjir bandang. Dalam kondisi tersebut, Yusri bersama sejumlah warga lain berupaya menyisir area sekitar semampunya untuk mencari dan menolong warga lain yang terjebak. “Alhamdulillah, ada 26 orang yang berhasil kami evakuasi,” kata Yusri.

Kunjungan dan penyaluran bantuan ini berlangsung di tengah situasi pengungsian yang masih berjalan. Kondisi lapangan menunjukkan perubahan lingkungan yang signifikan dan hilangnya ruang hidup warga Lhok Gunci. Hingga kini, warga masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menunggu kejelasan langkah pemulihan dan penanganan lanjutan dari pihak terkait. []