![]() |
| Produk biofarmaka “Herbatieng” karya kolaborasi STIkes Assyifa Aceh dan warga Gampong Paya Tieng. (Foto: dok. Edi Syahputra). |
Dosen STIkes Assyifa Aceh dan warga Gampong Paya Tieng, Aceh Besar, berkolaborasi menciptakan produk biofarmaka ‘Herbatieng’ dari tanaman obat lokal.
koranaceh.net | Aceh Besar – Tim dosen dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIkes) Assyifa Aceh, bekerja sama dengan warga Gampong Paya Tieng, Kecamatan Pekan Bada, Kabupaten Aceh Besar, menciptakan sebuah produk biofarmaka berbasis tanaman obat lokal.
Inisiatif yang merupakan bagian dari program penelitian pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk mengolah potensi tanaman herbal setempat menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus meningkatkan kemandirian kesehatan warga.
Produk yang dihasilkan dari program berjudul “Pengolahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA)” ini diolah dari berbagai tanaman herbal yang tumbuh di lingkungan desa. Tanaman seperti kunyit, jahe, serai, dan daun sirih diproses menjadi produk siap konsumsi yang diklaim berkhasiat untuk menjaga kesehatan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan membantu pencegahan penyakit ringan.
Program ini melibatkan pelatihan dan pendampingan langsung kepada anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) gampong setempat. Ketua Tim Pelaksana kegiatan dari STIkes Assyifa Aceh, Erda Marniza, menyatakan bahwa tujuan utama dari program ini adalah pemberdayaan masyarakat.
“Kami berharap masyarakat dapat mandiri dalam memanfaatkan tanaman obat dan mengembangkan usaha berbasis biofarmaka yang bernilai jual,” ujar Erda dalam keterangannya kepada koranaceh.net, Rabu (01/10/2025). Program ini, tambahnya, diharapkan dapat membuka peluang usaha kecil dan menengah baru bagi warga.
Proses pembuatan produk biofarmaka ini didasarkan pada resep yang telah disusun oleh tim pelaksana untuk memastikan komposisi yang konsisten dan khasiat yang tepat. Sebelum memulai produksi, resep tersebut dibagikan kepada para peserta.
Tim pelaksana kegiatan ini beranggotakan apt Cut Suraiya dan Widya Angreni, serta dibantu oleh dua orang mahasiswa, Pocut Balqis dan Nella Cahya Putri, yang turut memberikan pendampingan teknis kepada warga.
Untuk memberikan identitas dan nilai komersial, produk hasil kolaborasi ini diberi jenama atau branding ‘Herbatieng’. Erda menjelaskan makna di balik nama tersebut. “Produk biofarmaka ini kami beri nama atau branding ‘Herbatieng’ atau memiliki makna produk tersebut berasal dari tumbuhan di Gampong Paya Tieng,” katanya.
Menurutnya, penamaan ini menjadi bagian dari strategi untuk mengangkat asal-usul produk sebagai bagian dari keunggulan.
Inisiatif ini dilaporkan mendapat respons positif dari masyarakat setempat. Ketua PKK Gampong Paya Tieng, dalam sambutannya, menyampaikan kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi warganya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada tim dari STIkes Assyifa Aceh yang telah memilih Gampong Paya Tieng sebagai lokasi pelaksanaan program. Antusiasme peserta dari kalangan anggota PKK juga tercatat tinggi selama sesi pelatihan dan produksi berlangsung. [es]







