EditorialNews

Selamat Malam, Dunia: Pidato yang Ditunggu dari Prabowo di PBB

×

Selamat Malam, Dunia: Pidato yang Ditunggu dari Prabowo di PBB

Sebarkan artikel ini

Hamdan Budiman
*Pemred Koran Aceh

Pidato Prabowo di PBB dinanti: dunia menunggu suara Global South, rakyat menagih keberanian akui luka HAM dan janji damai yang belum tuntas.

koranaceh.net Ketika Presiden Prabowo Subianto bertolak ke New York malam ini, bukan hanya pesawat kenegaraan yang ia bawa, melainkan juga beban sejarah dan amanah rakyat yang menuntut kejelasan suara Indonesia di panggung dunia. Sidang Majelis Umum PBB ke-80 menjadi panggung strategis: di sanalah Prabowo akan berbicara, setelah Brasil dan Amerika Serikat, sebagai representasi Global South yang kian resah melihat dunia diatur hanya oleh segelintir kekuatan.

Di hadapan para pemimpin dunia, pidato Prabowo diperkirakan akan menyoroti agenda reformasi tata kelola global. Indonesia ingin menegaskan bahwa PBB tidak boleh terus menerus menjadi instrumen politik negara besar semata, melainkan harus menjadi wadah inklusif di mana negara-negara berkembang punya suara nyata. Dunia yang lebih adil dan setara bukan sekadar retorika, tetapi syarat mutlak agar perdamaian bisa lahir.

Namun, dunia tidak hanya menunggu Indonesia bicara tentang Gaza, Ukraina, atau Taiwan. Dunia juga melihat ke dalam negeri kita. Saat Prabowo mengangkat isu Hak Asasi Manusia di forum PBB, dunia akan mengingat luka lama dan baru: konflik Papua yang masih berdarah, pelanggaran HAM di Aceh yang tak kunjung ditutup secara bermartabat, hingga demonstrasi di Jakarta yang berujung tewasnya belasan orang dan ribuan penangkapan. Ironinya, Indonesia bicara tentang keadilan global sementara keadilan di rumah sendiri masih ditagih.

Karena itu, yang ditunggu dari Prabowo bukan hanya pidato resmi, tetapi keberanian moral. Apakah ia akan berani mengakui bahwa bangsa ini masih bergulat dengan luka HAM yang terbuka? Apakah ia akan mengakui bahwa MoU Helsinki yang dulu dijanjikan sebagai jalan damai kini dianggap rakyat Aceh sebagai janji yang dikhianati? Apakah ia akan menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya menuntut dunia lebih adil, tapi juga berjanji memperbaiki keadilan di tanah airnya sendiri?

Pidato Prabowo malam itu mungkin akan disiarkan ke seluruh dunia. Tetapi gema sejatinya akan terdengar paling nyaring di tanah air. Rakyat Papua, Aceh, Jakarta, dan daerah lain akan mendengar: apakah presiden mereka berbicara dengan jujur atau sekadar membaca naskah diplomatik. Dunia menunggu Prabowo berkata: Selamat malam, dunia. Selamat malam, rakyatku. Mari kita mulai era baru: di mana suara kecil pun tak lagi ditenggelamkan oleh teriakan kuasa. [*]