Oleh: Nisa Aulia
Perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun
sebelumnya. Pasalnya wabah virus Corona belum juga usai sudah hampir setengah
tahun ini.bahkan belum bisa diprediksi kapan akan berakhir. Oleh sebab itu
himbauan agar tidak berkerumun masih saja dianjurkan kepada masyarakat luas.
Menyetujui himbauan pemerintah, Kepala Direksi Perkebunan Kelapa Sawit PTPN 1 Unit Julok Rayeuk Utara Kecamatan Indra Makmu Kabupaten Aceh Timur mengumumkan kepada seluruh warga perkebunan agar mulai berkebun di pekarangan rumah sendiri dalam rangka menyambut perayaan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
Tak hanya itu, bahkan kegiatan berkebun di pekarangan rumah ini akan dijadikan ajang perlombaan menyambut hari kemerdekaan. Wah seru sekali pastinya ya.
Tak hanya tanaman
keluarga seperti jahe, kunyit, sereh, jeruk nipis dan tanaman-tanaman obat
lainnya. Kini tanaman hias seperti segala macam jenis bunga menjadi buruan
masyarakat. Keindahan yang dihasilkan begitu menarik perhatian bagi siapapun
yang melihatnya.
Pantas saja masyarakat lebih suka membudidayakan tanaman hias
daripada tanaman obat-obatan lainnya. Padahal jika dilihat dari segi kandungan,
tanaman obat-obatan lebih banyak manfaat mengingat wabah virus Covid-19 masih
saja menyebar luas. Walaupun begitu tanaman obat dan rempah-rempah juga tidak
ditinggalkan warga.
Warga desa
perkebunan Julok Rayeuk Utara sangat antusias melaksanakan intsruksi kepala
direksi dan jajarannya. Kini semua rumah sudah tampak asri dengan berbagi macam
tanaman hias yang disusun rapi. Rak-rak bunga yang dipajang pun tak mau kalah,
berbagai macam bentuk dan model disusun rapi mengikuti pola pot bunga yang akan
diletakkan.
Semua kreasi dan inovasi warga ikut tertantang dalam ajang
perlombaan ini. Rumah sederhana yang awalnya tampak biasa saja kini sudah
terlihat indah, asri dan mewah dengan warna-warni bunga dan pernak-pernik
pendukungnya.
Variasi harga bunga yang
ditanam warga juga beragam. Mulai dari harga lima ribu rupiah sampai puluhan
ribu rupiah. Ukuran, model dan jenisnya juga beragam, ada jenis bunga yang
dibonsai seperti bunga bougenfil (bunga kertas), bunga kamboja, dan bunga pucuk
merah.
Ada bunga gantung seperti bunga tapak dara, bunga Anggrek, bunga krokot
dan terakhir bunga yang diletakkan dirak-rak bunga biasa seperti bunga lidah
mertua (sansivera), bunga Jamaica, bunga keladi, bunga mawar, Bunga kaktus juga
bunga jenis aglonema yang kini sedang banyak diminati dan harganya pun sudah
melambung tinggi sampai jutaan.
Yasmini,
adalah salah satu penggiat dan penjual tanaman hias di desa Perkebunan Julok
Rayeuk Utara. Ia memulai usaha tanaman hias ini pada akhir bulan Juni tahun
2020 lalu. Mempunyai hobi berkebun adalah pemacu utama Yasmini memulai
usaha bunga yang sedang beliau tekuni.
Kini tahun 2020 dinamakan tahun bunga, pasalnya
setiap warga sibuk mencari kegiatan-kegiatan positif selama di rumah saja, salah
satunya adalah berkebun. Hal itu tidak terlepas dari kebiasaan warga setempat semenjak pandemic Covid-19 melanda.
Jenis
bunga yang dipasarkan Yasmini pun beragam, yang paling dominan adalah jenis
bunga mawar dan bougenvil (bunga kertas), tergantung permintaan para pembeli.
Yang lebih menarik lagi, para pembeli dibolehkan memesan bunga sesuai keinginan
mereka seperti jenis, warna, model pot, bahkan harganya juga dapat disesuaikan
dengan kantong pembeli.
Keuntungan yang
didapat Yasmini juga lumayan besar, “Alhamdulillah selalu habis terjual
tiap kali datang barang baru. Bunga yang sudah terjual juga lumayan, sekitar
100 polybag” tutur Yasmini.
Berbeda dengan Yasmini, tidak
semua warga berburu bunga dengan cara membeli, banyak juga yang mulai mandiri
membudidayakan segala macam tanaman di pekarangan rumah sendiri. Sebut saja seperti Nurbaiti.
Tidak hanya tanaman bunga (florikultura) tetapi
tanaman sayuran (olerikultura) dan tanaman obat-obatan (biofarmaka) juga menjadi
prioritas dalam berkebun. Dulu beliau hanya memproduksi untuk dikonsumsi
sendiri dan tidak untuk dipasarkan, namun sekarang setiap kali panen ia mulai
memasarkan hasil kebunnya bahkan beliau juga membagi-bagikan kepada warga
sekitar secara suka rela. jiwa bermasyarakat beliau patut diacungi jempol,
sebab semua orang sudah merasakan hasil kebun beliau.
Kini perayaan menjelang 17 Agustus
tahun ini semakin meriah, setiap orang bisa memanjakan mata dengan keindahan
bunga-bunga para warga. Sejak tanggal
1 Agustus 2020 lalu, warga desa sudah berbondong-bondong memasang bendera
merah-putih di depan halaman rumah masing-masing.
Tak kalah meriah, warga juga
sepakat untuk memasang umbul-umbul secara bersamaan. Semua warga saling
bantu-membantu untuk menaikkan umbul-umbul di sepanjang jalan desa. Pagar putih
masing-masing rumah juga menambah keindahan desa ini. Lengkaplah sudah, kini
warga desa perkebunan Julok Rayeuk Utara sudah siap menyambut perayaan hari
kemerdekaan Negara Indonesia.
Masa pandemic Covid-19 yang tengah
melanda tiap sudut negeri tak membuat semangat warga desa luntur. Bahkan
perayaan kemerdekaan tahun ini lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.
Indonseia harus tetap bangkit ditengah keterpurukan negeri, semangat juang
rakyat-rakyat adalah pemacu utamanya. Mari bersama kita bangkitkan nilai juang
bumi pertiwi.
*Penulis adalah mahasiswi di UIN Sumatera Utara.







