KoranAceh.net Sebuah video yang memperlihatkan ketegangan antara petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan seorang ibu pedagang kaki lima (PKL) di Jakarta mendadak viral di media sosial. Peristiwa ini tak hanya memantik perdebatan publik, tetapi juga menarik perhatian pejabat daerah.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat seorang perempuan yang diduga sebagai pedagang meronta-ronta saat diamankan oleh dua petugas Satpol PP. Suasana di lokasi tampak tegang, terlebih saat perekam video menyebut bahwa wanita tersebut membawa sebilah pisau.
Insiden ini disebut terjadi di kawasan Jalan Rasuna Said, Jakarta, pada Selasa, 7 April 2026. Dalam video, terdengar seorang pria melaporkan situasi kepada atasannya.
“Izin komandan, pelaku sudah mengancam anggota di Jalan Rasuna Said,” ujar perekam.
Namun, tudingan tersebut langsung dibantah oleh sang pedagang. Dengan nada emosional, ia mengaku justru merasa terancam oleh kehadiran petugas.
“Karena saya juga terancam oleh kalian,” jawabnya.
Situasi semakin memanas saat petugas berhasil mengamankan pisau yang dibawa oleh pedagang tersebut. Barang itu kemudian dijadikan sebagai bukti bahwa telah terjadi dugaan ancaman terhadap aparat.
“Sudah diimbau baik-baik, tapi tetap nyerocos, ini barang bukti,” ujar salah satu petugas.
Meski demikian, sang pedagang tetap membantah keras tudingan tersebut. Ia menegaskan tidak memiliki niat untuk melukai siapa pun.
“Saya tidak pernah mau menusuk anggota,” katanya bersikeras.
Peristiwa ini kemudian turut disorot oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Wakil Gubernur Rano Karno melalui akun Instagram resmi mereka.
Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa pedagang diduga berpura-pura menjadi korban pungutan liar (pungli) untuk menghindari penertiban. Bahkan, ia disebut sempat mencoba melakukan penyerangan terhadap petugas.
“Ia berpura-pura menjadi korban pungutan liar (pungli) dan berusaha menusuk petugas agar terhindar dari penertiban,” tulis akun tersebut.
Meski insiden ini tidak menimbulkan korban luka, pihak pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan.
Peristiwa ini kembali membuka diskusi publik terkait pendekatan penertiban PKL di ibu kota, sekaligus menyoroti pentingnya komunikasi yang humanis antara aparat dan masyarakat kecil.
Hingga berita ini diturunkan, pedagang yang terlibat dalam insiden tersebut telah diamankan oleh petugas untuk penanganan lebih lanjut.[]


