OpiniOpini & Kolom

Bejamu Saman: Menjaga Kedalaman Silaturahmi di Era Digital

×

Bejamu Saman: Menjaga Kedalaman Silaturahmi di Era Digital

Sebarkan artikel ini

KoranAceh.net | Nurul Alfia – Saat ini, kita mungkin lebih sering menyapa teman atau saudara melalui layar ponsel daripada bertemu langsung. Budaya digital memang memudahkan, tetapi sering kali membuat silaturahmi terasa hambar dan kehilangan kedalaman emosional. Kita perlahan terjebak dalam budaya individualistis, di mana hubungan sosial hanya sebatas formalitas di media sosial.

Di tengah kondisi itu, tradisi Bejamu Saman dari Gayo Lues menghadirkan pelajaran yang sangat berharga. Tradisi ini menunjukkan bahwa persaudaraan yang kuat tidak bisa dibangun secara instan atau hanya lewat pesan singkat. Ia membutuhkan kehadiran fisik, keterlibatan perasaan, serta ketulusan yang nyata.

Berbeda dengan suasana Idulfitri di perkotaan yang biasanya cepat mereda, masyarakat di dataran tinggi Gayo Lues justru memulai fase perayaan yang paling intim sehari setelahnya. Tradisi ini tidak muncul begitu saja, melainkan diawali dengan proses silaturahmi antarkampung. Misalnya, jika Kampung A ingin menjalin persaudaraan dengan Kampung B, perwakilan akan datang lebih dahulu untuk melakukan kesepakatan. Jika kedua pihak sepakat, barulah Bejamu Saman dilaksanakan.

Dalam tradisi ini, rombongan sebujang (pemuda) dari kampung undangan datang berbondong-bondong pada sore hari. Momen yang paling menarik adalah prosesi penyambutan. Para tamu terlebih dahulu menuju menasah, kemudian dipasangkan dengan pemuda setempat. Setiap tamu mendapatkan serinen (saudara angkat) yang sebaya, lalu diajak pulang ke rumah untuk beristirahat dan makan bersama.

Di sinilah persaudaraan mulai tumbuh. Mereka saling berbagi cerita sebagai saudara baru sebelum akhirnya, pada malam hari, seluruh sebujang berkumpul kembali untuk memulai pertunjukan Saman yang berlangsung hingga menjelang fajar.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan kontrak sosial yang menuntut keterbukaan dan kepercayaan. Di tengah kecenderungan masyarakat modern yang semakin tertutup, Bejamu Saman justru merayakan keberanian membuka pintu rumah bagi orang lain—sebuah praktik sosial yang kini semakin jarang dijumpai.

Puncak kegiatan berlangsung pada malam hari melalui pertunjukan Saman antarkelompok. Dimulai sejak larut malam hingga menjelang fajar, para sebujang menampilkan gerakan secara bergantian: satu kelompok memimpin, sementara kelompok lain mengikuti dengan ketepatan dan kekompakan. Pola ini berlangsung silih berganti, menuntut konsentrasi, kepekaan, serta kerja sama yang tinggi.

Suasana persaudaraan ini semakin lengkap dengan hadirnya para seberu (perempuan) yang membawakan Tari Bines. Di tengah tarian, terdapat tradisi unik yang disebut Najuk. Dalam tradisi ini, para sebujang dari kampung sebelah memberikan apresiasi berupa uang yang disematkan langsung ke sanggul penari yang mereka sukai.

Bagi masyarakat Gayo Lues, Najuk bukan sekadar soal materi, melainkan bentuk penghormatan sekaligus ekspresi ketertarikan antara pemuda dan pemudi. Ini adalah cara merayakan harmoni sosial dengan penuh kegembiraan serta penghargaan terhadap peran perempuan.

Namun, momen paling berkesan justru hadir di luar arena pertunjukan. Saat jeda, para sebujang kembali ke rumah serinen mereka untuk makan bersama. Di meja makan yang sederhana, obrolan mengalir tanpa sekat, mencairkan jarak yang tadinya kaku menjadi penuh kehangatan. Di dalam rumah itulah, hubungan yang semula formal berubah menjadi ikatan kekeluargaan yang nyata.

Indonesia sangat membutuhkan ruang sosial seperti ini—ruang di mana persaingan tidak menghancurkan kebersamaan, dan perbedaan bukan alasan untuk tidak bersaudara. Tradisi Bejamu Saman membuktikan bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari interaksi yang tulus dan berkelanjutan.

Bagi generasi muda, Bejamu Saman adalah pengingat penting: secanggih apa pun teknologi, ia tidak akan pernah mampu menggantikan makna kehadiran fisik. Persaudaraan bukan soal seberapa sering kita mengirim pesan, tetapi seberapa tulus kita duduk di atas tikar yang sama, berbagi hidangan, dan merasakan kebersamaan dari malam hingga fajar.[]