BRIN selidiki asal kayu gelondongan pascabanjir Sumatra. Tim forensik kayu diturunkan untuk menilai peran dan aktivitas manusia di hulu DAS.
KoranAceh.Net | Jakarta – Tim forensik kayu dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai menyelidiki asal-usul kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatra. Penyelidikan ini ditujukan untuk memastikan jenis, sumber, dan mekanisme pergerakan kayu sebagai dasar penilaian penyebab bencana dan perumusan mitigasi berbasis data.
Penyelidikan dilakukan oleh tim yang tergabung dalam Task Force Supporting Penanggulangan Bencana. Tim ini dipimpin peneliti forensik kayu BRIN Ratih Damayanti, bersama Sudarmanto, perekayasa muda dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN. Mereka bekerja bersama akademisi dan lembaga teknis kehutanan serta aparat penegak hukum.
Menurut Ratih, sebelum turun ke lapangan tim melakukan koordinasi dengan Badan Reserse Kriminal Kepolisian Indonesia (Bareskrim Polri) dan Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Medan. Pengambilan data difokuskan pada lokasi dengan timbunan kayu signifikan akibat banjir dan longsor.
Sejumlah titik yang disurvei antara lain Desa Garoga di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada Daerah Aliran Sungai Garoga; Desa Muara Sibuntuon di Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah; serta Desa Tamiang di Aceh. Tim juga menjadwalkan survei lanjutan di Pantai Parkit, Sumatra Barat.
Di lapangan, tim mengambil sampel kayu dan tanah serta membuat plot pengamatan. Langkah ini dilakukan untuk menghitung volume kayu yang terbawa bencana dan mengklasifikasikan asalnya. “Kami menghitung berapa volume kayu yang ada, lalu memetakan persentase kayu yang berasal dari tebangan, tumbang alami, atau tercabut akibat longsor dan banjir,” kata Ratih, Selasa (23/12/2025), dikutip dari keterangan tertulis.
Identifikasi jenis kayu dilakukan melalui analisis struktur anatomi kayu, metode yang lazim digunakan dalam forensik kayu. Proses ini melibatkan tim BRIN dan Xylarium Bogoriense Kementerian Kehutanan. Untuk pengujian lanjutan, Laboratorium Genetika Hutan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) turut dilibatkan melalui konsorsium WoodID Indonesia. Dalam uji laboratorium, tim menggunakan teknologi Deoxyribonucleic Acid (DNA) dan Direct Analysis in Real Time – Time of Flight Mass Spectrometry (DART TOFMS) untuk mengenali komposisi material.
Ratih menyatakan seluruh sampel saat ini masih dalam tahap pengumpulan dan pengolahan awal. Data kuantitatif terkait volume dan klasifikasi kayu ditargetkan rampung dalam pekan ini. Adapun penelusuran jenis kayu dan asal-usulnya secara detail diperkirakan bakal memakan waktu sekitar satu bulan.
“Proses ini membutuhkan ketelitian karena setiap kesimpulan harus benar-benar didukung bukti ilmiah,” ujar Ratih. Ia menegaskan pendekatan forensik kayu tidak berangkat dari asumsi, melainkan dari temuan lapangan yang dapat diuji.
Hasil analisis ini diharapkan memberi gambaran apakah material kayu yang terbawa banjir lebih dominan berasal dari proses alamiah atau aktivitas manusia di hulu daerah aliran sungai. Temuan tersebut akan dipadukan dengan analisis citra satelit dan berfungsi sebagai penguat dalam pemetaan bencana.
Menurut Ratih, integrasi data lapangan dan data keantariksaan diharapkan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai dinamika bencana di Sumatra. Kajian ini nantinya akan diserahkan kepada aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan pengelola hutan. “Sekaligus menjadi dasar ilmiah yang kuat bagi kebijakan mitigasi dan rehabilitasi wilayah terdampak,” pungkas Ratih. []







