Saat Jakarta Berkata “Kami Mampu”, Aceh Memilih Menyelamatkan yang Terlupakan
KoranAceh.Net | ACEH TAMIANG — Di Jakarta, dalam sebuah sidang kabinet, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa banyak kepala negara menelpon dirinya, menawarkan bantuan internasional untuk korban bencana di Aceh–Sumatra. Jawaban pemerintah pusat tegas dan singkat: Terima kasih, kami masih mampu.
Namun ratusan kilometer dari ruang rapat berpendingin udara itu, di pedalaman Aceh Tamiang, kata “mampu” terdengar jauh dan asing.
Di Kampung Lubuk Sidup, Kecamatan Bandar, tidak ada tanda-tanda negara yang “masih mampu”. Yang ada hanya puing rumah, gelondongan kayu setinggi masjid, dan keluarga-keluarga yang hidup dari sisa-sisa yang berhasil diselamatkan.
Di sinilah kontras itu menjadi nyata.
Rabu (16/12/2025), Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir, yang akrab disapa Kak Na, datang bukan membawa pidato, melainkan bantuan. Bersamanya hadir Staf Ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhlullah, serta Rozi Abdul Razak, Penasihat Yayasan Nurjiwa Malaysia—lembaga kemanusiaan yang dipimpin oleh Dato’ Sri Siti Nurhaliza.

Tidak ada seremoni. Tidak ada spanduk besar. Yang ada hanya lumpur, puing, dan tatapan warga yang sudah terlalu lama menunggu.
“Ada lebih dari 200 rumah di Kampung Lubuk Sidup. Semuanya hancur diterjang banjir bandang. Tidak satu pun tersisa. Hanya Masjid Nurussalam yang masih berdiri,” ujar Kak Na, suaranya tertahan, matanya menyapu kehancuran di sekeliling.
Masjid itu kini menjadi simbol sekaligus tempat berteduh terakhir. Setelah dibersihkan secara gotong royong, Masjid Nurussalam difungsikan kembali sebagai posko pengungsian. Di sisi utaranya, tumpukan kayu dan material banjir menggunung, setara tinggi bangunan masjid—seolah menjadi saksi bisu kekuatan bandang yang meluluhlantakkan kampung.
Bagi Kak Na, penolakan resmi negara terhadap bantuan asing tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan warga terisolasi sendirian.
“Kebetulan Puan Rozi baru saja menyerahkan bantuan dari Yayasan Nurjiwa yang dipimpin oleh Dato’ Siti Nurhaliza. Karena itu kami ajak langsung ke Lubuk Sidup, supaya melihat dan menyalurkan bantuan ke masyarakat yang benar-benar terdampak,” katanya.
Puan Rozi tampak terenyuh. Wajahnya berubah saat melihat rumah-rumah yang tinggal puing, dapur yang hilang, dan pakaian yang tergantung di ranting-ranting pohon—sisa kehidupan sebelum bandang datang.
Bantuan diserahkan satu per satu: beras, minyak goreng, mie instan, pakaian, selimut, roti, susu, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Tidak cukup untuk mengganti yang hilang, tetapi cukup untuk membuat warga bertahan beberapa hari lagi.
Seperti di setiap kunjungannya, Kak Na menyempatkan diri mendekati anak-anak. Ia membagikan biskuit dan cokelat. Wajah-wajah kecil yang sempat muram mendadak berubah cerah.
“Horee… dapat biskuit dan coklat dari kampung Upin Ipin!” teriak anak-anak serentak, memecah sunyi posko.
Tawa mereka terasa janggal di tengah kehancuran, tetapi justru di situlah harapan bekerja—diam-diam, sederhana, dan manusiawi.
Di sudut posko, Kak Na duduk mendengarkan kisah para ibu yang kehilangan rumah, kebun, dan harta benda. Tidak ada janji besar. Tidak ada klaim negara hadir sepenuhnya.

“Sabar ya Bu. Tetap semangat. Kerja-kerja pembenahan masih panjang dan berat. Tapi Insya Allah, kita mampu hadapi semua ini bersama,” ucapnya pelan sebelum berpamitan.
Di Jakarta, negara menyatakan mampu. Di Aceh, kemampuan itu diuji oleh lumpur, jarak, dan kenyataan di lapangan.
Dan di antara dua dunia yang kontras itu, Kak Na memilih berdiri bersama korban—menerima uluran tangan siapa pun yang datang membawa kemanusiaan, tanpa menunggu restu diplomasi, tanpa menunggu statistik rampung.
Karena bagi warga Lubuk Sidup, bantuan bukan soal politik luar negeri. Ia soal hari ini bisa makan, malam ini bisa berteduh, dan besok masih punya harapan.[]

