Rakyat Malaysia Tersinggung, Solidaritas Kemanusiaan Justru Menguat
KoranAceh.Net | LANGSA — Di tengah pernyataan Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian yang menyebut bantuan Malaysia untuk korban bencana Aceh–Sumatra “tidak seberapa” dan memicu ketersinggungan warga serta wakil rakyat Malaysia, Siti Nurhaliza Tarudin justru menunjukkan wajah lain hubungan serumpun: solidaritas tanpa syarat.
Melalui Yayasan Nurjiwa, yang dipimpinnya bersama Dato’ Sri Khalid Muhammad Jiwa, penyanyi legendaris Malaysia itu mengirimkan tiga truk bantuan kemanusiaan langsung ke Aceh. Bantuan tersebut diterima Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir (Kak Na) bersama Staf Ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhlullah di Kota Langsa, Rabu sore (16/12/2025).
“Alhamdulillah, terima kasih kami sampaikan kepada Kak Siti Nurhaliza dan Yayasan Nurjiwa serta seluruh penyumbang dari Malaysia yang dengan tulus datang membantu masyarakat Aceh yang terdampak banjir, banjir bandang, dan longsor,” ujar Kak Na.
Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut akan segera disalurkan kepada warga terdampak di berbagai wilayah Aceh.
“Tolong sampaikan salam dan rasa terima kasih kami kepada Kak Siti Nurhaliza dan seluruh penyumbang. Insya Allah amanah ini segera kami tunaikan kepada masyarakat,” lanjutnya.
Bantuan diserahkan oleh Rozi Abdul Razak, Penasihat Yayasan Nurjiwa, yang menjelaskan bahwa bantuan bersifat tanggap darurat, meliputi beras, minyak goreng, pakaian pria dan wanita, selimut, biskuit, susu, pampers, air mineral, sarden, mie instan, genset, obat-obatan, serta kebutuhan pokok lainnya.

“Ini adalah wujud keprihatinan kami terhadap saudara-saudara di Aceh. Sebagai negeri serumpun, penderitaan Aceh adalah penderitaan kami juga,” kata Rozi.
Di Malaysia, pernyataan Mendagri RI yang menilai bantuan “tidak seberapa” dinilai sebagian warga dan wakil rakyat—termasuk dari Pulau Penang—sebagai bentuk pelecehan terhadap empati publik. Namun respons masyarakat Malaysia justru berbanding terbalik: solidaritas diperkuat, donasi ditingkatkan, dan bantuan dikirim langsung ke lokasi bencana.
Kehadiran bantuan dari Yayasan Nurjiwa menjadi penegasan bahwa kemanusiaan tidak membutuhkan pengakuan politik. Saat kata-kata melukai, tindakan Siti Nurhaliza dan rakyat Malaysia menjawabnya dengan kerja nyata.[]

