AcehNews

Tanpa Wagub Pengentasan Kemiskinan Semakin Sulit di Aceh

×

Tanpa Wagub Pengentasan Kemiskinan Semakin Sulit di Aceh

Sebarkan artikel ini

Banda Aceh – Pengentasan kemiskinan semakin sulit di Aceh sejak penangkapan Irwandi Yusuf, kata Syamsuddin Jalil Ayah Panton, kepada koranaceh.net, Selasa, 17 Februari 2021.

Ditemui di Taman Budaya Banda Aceh, budayawan Gaek yang akrab disapa Ayah Panton lebih lanjut mengatakan, Nova Iriansyah telah memimpin sendiri di saat awal-awal sedang beradaptasi menjadi wagub Irwandi tiba-tiba jadi Plt. Gubernur, hingga menjadi Gubernur definitif.  

Lalu, kata Ayah Panton, keadaan sosial politik juga menjadi semakin kurang stabil dan dengan legitimasi sosial yang rendah, Nova harus menghadapi banyak tekanan sehingga solusi-solusi meredam keadaan lebih kepada melayani kelompok kelompok terbatas dengan berbagai bantuan instan tapi bantuan itu sayangnya bukan untuk rakyat, katanya.

“Berbeda dengan pada masa Irwandi-Nazar yang sangat seimbang memberikan bantuan bahkan porsi kelompok masyarakat umum lebih dominan”, tandasnya.

Hal lain ketika tanpa wagub, menurut Ayah Panton, maka yang berperan adalah wagub-wagub siluman dan misterius yang tentu saja memburu kue APBA untuk diri mereka maupun pemegang kapital besar, katanya.

Sementara dalam aturan main tupoksi wagub salah satunya adalah mengkoordinir pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran, katanya.

Namun sayangnya fungsi itu tak bisa jalan karena Nova Iriansyah sendiri terus dan ada gelagat menghindari adanya wagub, rakyatpun semakin korban, tambah Ayah Panton.

Penurunan angka kemiskinan dan pengangguran yang masif pasca perdamaian hanya terjadi pada masa pemerintahan Irwandi-Nazar tetapi lagi-lagi sangat disayangkan, pada masa pemerintahan berikutnya (Zaini Muzakkir) tak mampu melanjutkan kesuksesan seperti dilakukan Irwandi-Nazar dan bahkan pembangunan mulai semrawut lagi meskipun jumlah APBA,  jauh lebih besar dibandingkan masa Irwandi-Nazar, katanya.

Harapan perbaikan muncul kembali ketika Irwandi-Nova menang Pilkada. Kemenangan itu sendiri erat kaitannya karena publik membandingkan kehebatan Irwandi-Nazar dengan kinerja Zaini-Muzakkir. 

Tapi peristiwa penangkapan Irwandi dan menjadikan Nova memimpin sendiri tanpa wagub membuat pembangunan Aceh kembali kacau balau. 

Karena itulah Nova dan partai partai pengusung, jika benar benar mencintai Aceh dan rakyatnya bersegeralah mengisi wagub dengan figur yang berpengalaman, berkemampuan dan memiliki ideologi dan paradigma keAcehan yang kuat yang mencintai Aceh dan membangun Aceh. 

Figur yang relevan dengan kondisi Aceh termiskin di Sumatera saat ini, adalah Muhammad  Nazar dan selama menjadi wagub ia adalah koordinator pengentasan kemiskinan di Aceh.

“ Tapi salut untuk Nova Iriansyah karena sangat memegang amanah MoU dimana disebutkan Self Government yang artinya Pemerintahan Sendiri dan sendiri bahasa Aceh sidroë jadi ngapain harus ada wakil Gubernur kan lebih tepat kalau dia memimpin sendiri sesuai dengan MoU”, guyon Ayah Panton.[]