AcehNews

Laporan Khusus : Hasil Investagi dan Survei Manual Jaringan Wartawan Aceh Jelang Pilgub Aceh 2024

×

Laporan Khusus : Hasil Investagi dan Survei Manual Jaringan Wartawan Aceh Jelang Pilgub Aceh 2024

Sebarkan artikel ini

Fenomenal, Arus Sokongan Masif Rakyat Mengalir Deras ke Nazar SIRA Mirip Seperti Peristiwa Kemenangan Capres Anies di Aceh, Bisa Lampaui 60% Suara.

Banda Aceh – Perhelatan Pilkada
Serentak  pemilihan para Calon Gubernur (Cagub)/ Wakil Gubernur
(Wagub), Calon Bupati (Cabup)/ Calon Wakil Bupati (Cawabup) dan Calon Walikota
(Cawalkot)/ Calon Wakil Walikota (Cawawalkot) Periode 2025-2030 di seluruh
Indonesia tinggal menghitung hari. 

Tepatnya hari Rabu, 27 November 2024, jika tak ada aral
melintang Pilkada Serentak digelar dari Sabang sampai Marauke. Aceh sendiri
adalah provinsi paling pertama yang mempraktikkan Pilkada Serentak pada tahun
2006, yaitu pemilihan Cagub/ Cawagub, Bupati/ Walikota beserta Para Wakilnya
pada 11 Desember 2006. 

Sebuah Pilkada Serentak yang menarik sorotan dunia
internasional dan hadir sebagai pemantau independen. Bahkan para diplomat asing
hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun ikut menghadiri langsung pelantikan
Gubernur-Wakil Gubernur, Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar sebagai hasil pilkada
langsung pertama dalam sejarah Aceh tersebut. 

Kali ini, merespon keadaan sosial politik yang terus
mengkristal dan bergerak semakin dinamis, sejumlah wartawan yang menyebar di
seluruh Aceh dan lain lain secara bersama-sama maupun terpisah mencoba
mengeksplorasi kecenderungan para pemilih dari berbagai strata sosial dan
profesi terhadap keinginan mereka, siapa yang sebenarnya mereka inginkan
memimpin provinsi Aceh, khususnya sebagai Gubernur Aceh Periode 2025-2030.

Investigasi sosial politik ini, apakah ini disebut sebagai
Survei Ilmiah atau bukan, hasilnya adalah suatu fakta lapangan, setidaknya
hingga jadwal waktu per-hari ini, kata Ketua Dewan Pengurus Daerah Pers Siber
Indonesia (DPD PSI) Provinsi Aceh, Said Saiful dalam jumpa pers di Warkop Bulog
Banda Aceh, Minggu sore, 18 Agustus 2024

Menurut Said Saiful, PSI memiliki jaringan di berbagai
kabupaten/kota se/ Aceh melakukan investigasi survei manual ini sengaja
dilakukan berpijak pada dasar pengalaman yang sama diperoleh para wartawan di
lapangan ketika setiap perhelatan Pilkada yang pernah berlangsung pada tahun
2006, 2012 dan 2017, khususnya untuk pemilihan Cagub/ Cawagub. 

Hal mana akurasi investigasi dan survei manual seperti ini
selalu tepat, tambah Said Saiful, meskipun perolehan hasil suara yang dicapai
saat hari pencoblosan dan perhitungan suara  bagi Cagub/ Cawagub
pemenang sedikit berbeda, yaitu biasanya lebih tinggi sedikit dari hasil
investigasi dan survei manual semacam ini. 

Meski pada Pilkada 2006, 2012 dan 2017 ada sejumlah lembaga
survei sering mempublikasikan perolehan suara bagi kandidat-kandidat tertentu
sebagai pemenang tetapi kemudian hasilnya berbeda dengan kenyataan saat hari
pencoblosan dan perhitungan suara. 

Hasil investigasi manual yang alamiah ini dilakukan tanpa
melupakan sisi ilmiahnya, dilakukan oleh beberapa wartawan dari berbagai media
yang berbeda dan ternyata jauh lebih akurat. 

Menurut Ketua DPD PSI itu, kali ini, sejumlah wartawan dan
jaringannya yang ada di seluruh Aceh mencoba melacak keinginan dominan warga
Aceh secara lebih alamiah dan spontan, khususnya tentang siapa figur publik
yang paling pantas menjadi Gubernur Aceh Periode 2025-2030. 

Dua ribu warga ber-KTP Aceh memiliki hak pilih dan berbagai
latar belakang diwawancarai wartawan, seperti petani, nelayan, siswa dan
mahasiswa, kalangan perempuan, eks kombatan GAM, eks GAM sipil non-kombatan,
aktivis sipil, ulama, santri, pedagang kaki lima, pengusaha, ASN/ pegawai
negeri dari berbagai unit kerja, guru dengan status ASN maupun guru kontrak/
honor, kaum akademik kampus, guru besar dan pakar, kader dan pengurus partai
politik lokal maupun nasional yang berbeda hingga tokoh-tokoh masyarakat lainnya. 

Mereka ini sebahagiannya menetap di kota-kota provinsi Aceh,
kabupaten/ kota dan kota kecamatan serta sebagian besar menetap di
kampung-kampung yang jauh dari pusat perkotaan, tandas Said Saiful.

Perolehan Suara Muhammad Nazar SIRA Mirip Peristiwa Suara
Kemenangan Anies Baswedan dalam Pilpres di Aceh

Dari penelusuran dan investigasi yang dilakukan para
wartawan tersebut, fakta keinginan sosial politik warga dalam merespon Pilkada
tingkat Gubernur/ Wagub ini menunjukkan bukti sangat serius dan berjalan cukup
reguler dalam tiga bulan terakhir bahwa warga di seluruh Aceh nampak masih
menginginkan figur-figur yang terkait perjuangan Aceh semasa konflik yang telah
berakhir dengan proses perdamaian ini, kata Pemimpin Redaksi Aceh Nasional News
(annews.co.id), Said Saiful, A.Md.

Mereka masih mengharapkan figur-figur dari kalangan mantan
pejuang GAM maupun tokoh gerakan sipil SIRA (Sentral Informasi Referendum Aceh)
dapat memimpin Aceh sebagai Gubernur Periode 2025-2030, tambahnya.

Kesimpulan kualitatif masyarakat Aceh, nama GAM dan SIRA
Referendum ternyata masih melekat di sebahagian besar warga Aceh terutama bagi
generasi yang telah lahir sebelum tahun 2000. Sedangkan bagi warga Aceh yang
lahir di atas tahun 2000 sebahagian mereka juga mengenal nama GAM dan SIRA,
terutama warga yang suka mengeksplorasi kesejarahan perjuangan Aceh selama
konflik maupun pembangunan Aceh yang dihasilkan paska damai, baik melalui
sosial media maupun cerita oral yang tidak berhenti, imbuh Said Saiful yang
malang melintang di ibu kota Jakarta.

Terkait kesimpulan berbasis kesukaan dan sekaligus
keterpilihan, dari 2000 warga sebagai responden yang ditelusuri dan berlatar
berbeda itu memang membuktikan bahwa kepemimpinan pemerintahan dan pembangunan
Aceh mendatang masih harus dipercayakan kepada tokoh-tokoh yang ada kaitan
langsung dengan perjuangan Aceh. 

Tetapi warga Aceh yang diinvestigasi ini juga pada saat yang
sama mensyaratkan kapasitas, kualitas dan integritas kepemimpinan yang layah
harus dimiliki figur-figur yang sedang bergulir sebagai Bacagub/ Bacawagub,
katanya.

Para responden secara terpisah, mayoritasnya mengharapkan
Gubernur Aceh mendatang wajib memiliki kemampuan dan pengalaman kepemimpinan,
penguasaan berbagai ilmu pengetahuan, telah teruji, relijius, berani, ideologis
dan pro-Aceh, bijak, menguasai dan memahami perundang-undangan, berjasa kepada
Aceh termasuk selama perjuangan di masa konflik, memiliki trah kepemimpinan
secara historis, jejak rekam prestasi masa lalu dalam kepemimpinan, memiliki
jaringan kuat bukan hanya di tingkat lokal dan nasional tetapi dunia
internasional, memiliki ide-gagasan-visi-misi-program dan solusi dari dirinya
sendiri tanpa didikte atau bukan Gubernur boneka yang idenya dipasok orang
lain. 

Kemampuan memimpin rapat, berpidato dan mengorgansir hingga
penguasaan bahasa asing seperti Inggris dan Arab ikut menjadi sorotan warga
karena dinilai akan menjadi faktor yang menguntungkan bagi Aceh, termasuk dalam
rangka meningkatkan kembali nilai tawar Aceh di pentas nasional dan
internasional untuk terus memperhatikan realisasi kemajuan bagi Aceh. 

Menurut Said Saiful, Warga Aceh menilai Gubernur Aceh
mendatang amatlah penting sehubungan dengan kekacauan pembangunan, eksistensi
kondisi kemiskinan dan pengangguran yang tidak berhasil diselesaikan.

Menurut penilaian kebanyakan mereka sebagai penduduk Aceh,
sebenarnya apabila program-program pro-rakyat yang telah dirintis dan dilakukan
oleh pemerintah Aceh masa kepemimpinan Irwandi-Nazar (2007-2012) berlanjut maka
Aceh pasti telah lebih baik dan sejahtera dalam berbagai bidang. 

Tetapi mereka menilai, para Gubernur-Wagub Aceh paska
selesainya masa Irwandi-Nazar nampak tidak ada lagi yang memiliki
ide-gagasan-visi-misi-program-solusi dari diri mereka sendiri, tidak konsisten
dengan Rancangan Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) yang telah dibuat masa
Irwandi-Nazar serta kelemahan ilmu, talenta, pengalaman, keberanian dan
ideologi kepemimpinan dalam paradigma keAcehan dan keislaman. 

Berdasarkan gambaran di atas, kebanyakan warga Aceh akhirnya
masih menaruh harapan sangat besar pada kehadiran tokoh gerakan perjuangan
sipil Aceh, H. Muhammad Nazar karena dinilai memiliki kemampuan, talenta dan
pengalaman kepemimpinan dalam pembangunan serta pemerintahan Aceh. Sekaligus,
figur Nazar SIRA ini dinilai telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam
keadaan penuh tekanan paska konflik. 

Tetapi ia bersama Irwandi Yusuf dinilai mampu merintis jalan
kemajuan dengan melahirkan banyak program pembangunan pro-rakyat, meningkatkan
nilai tawar Aceh terhadap pemerintah pusat maupun donor internasional selain
keduanya juga sukses mempertahankan tahap awal transisi konflik ke perdamaian
yang sangat beresiko. 

Warga Aceh menilai, meskipun kehadiran Muhammad Nazar
sebagai Wagub yang mendampingi Irwandi Yusuf kala itu tetapi perannya lebih
dominan dalam berbagai ide dan konsepsi hingga pelaksanaan dan pengawasan
pembangunan selama lima tahun jabatannya.

Tokoh yang telah dikenal luas hingga ke mancanegara sejak
1999 karena perjuangan sipil damainya untuk Aceh, saat usianya baru memasuki 26
tahun dan masih sangat muda dinilai memiliki banyak kelebihan dan multi talen
dalam urusan kekuasaan resmi pemerintahan saat menjadi Wagub maupun
kepemimpinan informal di saat dirinya tidak memiliki jabatan. Mayoritas warga
yang disurvei ini menyebut Muhammad Nazar sebagai pemimpin nyata dan telah
sangat teruji dengan pengusaaan terhadap berbagai ilmu pemerintahan dan seni
kepemimpinan. 

Mayoritas warga Aceh menilai dan meyakini perpaduan
kelebihan Nazar SIRA ini tidak dapat ditandingi oleh sosok-sosok lain yang
memunculkan diri mereka sebagai cagub maupun cawagub melalui berbagai manuver
serta media saat ini, termasuk sosial media. 

Mereka menyebut dalam diri Muhammad Nazar itu telah melekat
perpaduan kemampuan, ilmu, talenta, seni, keberanian, ideologi dan konsisten
kepemimpinan pemerintahan maupun non pemerintahan kharismatis. Juga dirinya
dinilai menguasai beragam ilmu pengetahuan umum dan agama, sudah sangat teruji
dalam segala medan tekanan, termasuk selama konflik dan berkali-kali menjadi
tahanan politik karena kepentingan perjuangan Aceh. 

Dari dua ribu  warga yang dieksplorasi dan
ditanyakan para wartawan dalam tiga minggu terakhir ini sebanyak 1179 warga
menyatakan harapan dan dukungan penuh mereka kepada sosok H. Muhammad Nazar
untuk memimpin Aceh sebagai Gubernur Periode 2025-2030. 

Bahkan sebelum disodorkan bersama nama-nama lain oleh
wartawan untuk dinilai, sebahagian responden dari penduduk Aceh ini spontan
menyebut sendiri nama figur Muhammad Nazar sebagai tokoh yang paling layak
menjadi gubernur karena telah menjadi pemimpin yang siap tanpa harus belajar
dari nol serta telah teruji dalam berbagai hal. 

Hal yang paling menarik juga ikuti ditemukan dari
investigasi dan survei manual ini, dimana ada banyak warga yang pernah menjadi
para kombatan maupun sipil GAM maupun para kader berbagai partai politik lokal
dan nasional menyatakan dengan terbuka menginginkan serta mendukung Muhammad
Nazar untuk menjadi Gubernur Aceh melalui Pilkada kali ini. Padahal sebahagian
Partai tempat mereka bernaung ini telah  memberikan rekomendasi
sementara kepada kandidat lain seperti Muzakkir Manaf. 

Dari keinginan sosial politik warga Aceh tersebut di atas,
berarti kita dapat menemukan setidaknya untuk saat ini sejumlah 58,95% warga
Aceh sangat menyukai, mendukung dan akan memilih Muhammad Nazar sebagai
Gubernur Aceh Periode 2025-2030. 

Dari 2000 responden yang diuji dan ditanya secara manual
oleh para wartawan yang kita kerahkan ke lapangan, terindikasi nyata jika
potensi kemenangan Muhammad Nazar dalam Pilkada sebagai Cagub Aceh kali ini
tidak akan jauh berbeda dengan apa yang pernah diperoleh pasangan
Capres-Cawapres Anies-Muhaimin dalam pilpres lalu.

Potensi kemenangan ini adalah dalam kondisi dimana hingga
saat ini Muhammad Nazar belum dinyatakan diusung resmi oleh Partai manapun
serta belum ada kepastian pula siapa Cawagubnya. 

Perkiraan kami, dukungan jumlah persentase terhadap tokoh
perjuangan yang pernah menjadi Wagub Aceh 2007-2012 dan organisatoris ulung di
berbagai organisasi sejak masih studi di UIN Ar-Raniry 1992-1997 ini akan
semakin besar dan sangat tinggi jika dirinya segera dinyatakan diusung resmi
oleh Partai-Partai tertentu. Muhammad Nazar berpotensi menang dengan perolehan
di atas 60% suara rakyat jika dirinya berhasil masuk sebagai kandidat Gubernur
Aceh dalam Pilkada mendatang. 

Selain itu, Partai-Partai yang akan menjadi pengusung
Muhammad Nazar berkemungkinan besar juga akan menuai keuntungan sosial politik
lebih positif dari rakyat dalam aktivitas politik mereka ke depan yang
dijalankan di Aceh. Partai-Partai yang akan mengusung Muhammad Nazar
diperkirakan akan dinilai oleh warga Aceh sebagai Partai-Partai pro-pembangunan
dan perubahan menuju kemajuan Aceh.

Dukungan Alamiah ke Nazar Semakin Deras

Di luar hasil investigasi dan survei manual para wartawan
ini, bentuk dukungan lainnya yang dinampakkan rakyat di berbagai daerah di Aceh
untuk Muhammad Nazar juga nampak jelas dengan hadirnya begitu banyak postingan
pribadi maupun kelompok para warga secara alamiah setiap hari tanpa diorgansir
secara khsusus dalam bentuk pengumpulan massa. 

Meskipun sosok Muhammad Nazar ini hanya mensosialisasikan
dirinya dengan jumlah spanduk dan baliho dalam jumlah sangat terbatas tetapi
masyarakat yang telah mengenalnya dari dulu secara dominan mendukungnya tanpa
bergantung pada iklan khsusus di lapangan. Sejumlah wawancara Nazar dan
postingan tentang dirinya juga nampak diikuti rutin oleh warga di lapangan
seperti melalui TikTok, Instagram, Facebook, YouTube dan lain-lain, diantaranya
TikTok koran_aceh.

Kondisi ini mengingatkan kita kembali pada peristiwa
kemenangan Nazar bersama Irwandi Yusuf pada Pilkada 2006 maupun kemenangan
Irwandi Yusuf kembali pada Pilkada 2017, dimana keduanya hanya menyebarkan
sedikit saja alat peraga kampanye dibandingkan para kandidat Gubernur
lainnya. 

Bahkan, keduanya pada Pilkada 2006 maupun saat Irwandi
menjadi Cagub kembali dalam Pilkada 2017 sering diisukan sebagai tokoh yang
tidak memiliki uang untuk kampanye sehingga beberapa partai politik yang sering
menjadikan uang sebagai salah satu syarat utama memperoleh kemenangan tidak
jadi mengusungnya dan memprioritaskan memilih mengusung kandidat-kandidat lain.
Alhasil kalkulasi partai-partai politik memang sering tidak tepat dalam
menghadapi pilkada Aceh, khususnya dalam pemilihan calon Gubernur. 

Mualem Runner Up Perolehan Suara Keterpilihan

Keinginan warga memprioritaskan tokoh-tokoh yang terlibat
perjuangan selama konflik untuk menjadi Gubernur Aceh semakin nampak dari
respon warga yang dijadikan responden. Sedangkan figur-figur lain di luar
tokoh-tokoh inti dan simbolis dalam perjuangan selama konflik Aceh masih tidak
mendapatkan kesukaan dan keterpilihan dominan sebagai Cagub Aceh. 

Artinya pula bahwa Pilkada untuk gubernur Aceh yang dipilih
langsung oleh rakyat kali ini masih memiliki karakter yang sama dengan Pilkada
Aceh tahun 2006, 2012 dan 2017. 

Dalam ketiga kali perhelatan Pilkada tersebut, perolehan
suara pemenang maupun peringkat tiga besar perolehan suara tertinggi selalu
jatuh kepada kandidat-kandidat gubernur yang ada kaitannya dengan perjuangan
referendum dan kemerdekaan Aceh semasa konflik. 

Figur-figur selain latar belakang tersebut yang berupaya
memunculkan diri mereka dan berhasil mengikuti Pilkada sebagai Cagub pada 2006,
2012 dan 2017 belum pernah mendapatkan suara dominan di tiga besar, kecuali
jika mereka berhasil secara resmi memperoleh dukungan kaum perjuangan dari GAM
maupun SIRA. 

Bahkan dalam setiap Pilkada untuk pemilihan Gubernur Aceh,
tokoh-tokoh yang kemudian maju secara terpisah dari dukungan pecahan-pecahan
eks organisasi GAM maupun SIRA juga mendapatkan suara cukup besar meskipun
tidak masuk dalam tiga besar seperti dialami Dr. Zaini Abdullah maupun Zakaria
Saman pada Pilkada 2017 dibandingkan beberapa kandidat lainnya yang datang dari
kalangan berbeda. 

Logo dan simbol akademik murni, ulama yang bukan tokoh
politisi, elit birokrat dari kalangan ASN, Pj atau Plt Gubernur yang maju
sebagai Cagub dalam setiap Pilkada Aceh selalu harus menerima kekalahan telak
dan sama sekali tidak mampu menerobos atau memecahkan perilaku politik
mayoritas rakyat Aceh yang belum lepas dari sejarah perjuangan Aceh semasa
konflik. 

Dari 2000 responden, meskipun Muzakkir Manaf masih mengalami
kekalahan dari Muhammad Nazar untuk sisi kesukaan dan keterpilihan tetapi
dirinya masih tetap memperoleh jumlah suara yang tinggi, jauh di atas
kandidat-kandidat lain seperti Ruslan Daud, Sudirman alias Haji Umar dan
Bustami Hamzah. Dalam investigasi dan survei manual ini, eks Panglima TNA ini
memperoleh sejumlah 413 suara dari 2000 responden, atau sebesar 20,65%.

Adapun H. Ruslan Daud yang namanya masih bergulir selama
investigasi dan survei manual ini dilakukan menempati urutan ketiga. Dari 2000
responden, Ruslan Daud memperoleh 108 suara atau 5,4%. Menyusul berikutnya Haji
Uma dengan perolehan suara responden sebanyak 101 suara atau 5,05%. Sementara
Bustami Hamzah yang masih menjabat sebagai Pj Gubernur Aceh memperoleh suara
keterpilihan dari 72 responden atau 3,6%. Nama lainnya yang ikut disebut
masyarakat dan ditanyakan adalah H. M. Yusuf Abd Wahab alias Tu Sop yang
dinginkan dan dipilih oleh 64 responden atau 3,4%. 

Sosok-sosok seperti H. Ruslan Daud, Haji Uma dan Tu Sop
secara dominan diharapkan oleh mayoritas responden dapat menjadi Cawagub
meskipun investigasi dan survei manual ini tidak memfokuskan pertanyaaan pada
elektabilitas Cawagub. 

Responden yang menjawab pertanyaan maupun yang secara
spontan menyatakan kesukaan serta pilihannya ini berjumlah 1937 dari 2000
responden. Selebihnya sebesar 63 responden atau 3,15% belum menentukan jawaban
mereka dan menyatakan lebih menunggu finalisasi pencalonan siapa saja yang akan
mendaftar ke Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh.