AcehLingkunganNews

Deforestasi Aceh Meningkat 19 Persen pada 2024, 10.610 Hektare Tutupan Hutan Hilang

×

Deforestasi Aceh Meningkat 19 Persen pada 2024, 10.610 Hektare Tutupan Hutan Hilang

Sebarkan artikel ini
Direktur Yayasan HAkA, Farwiza Farhan, dan Sekretaris Yayasan HAkA Sumatera, Badrul Irfan (kiri) dan Kepala BPS Aceh, Ahmadriswan Nasution, saat penyerahan buku berjudul "Dua Dekade Deforestasi Aceh: Dari Hilangnya Hutan hingga Penurunan Kesejahteraan" ke Pemerintah Aceh yang diwakilkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, A. Hanan, di di Aula BPS Provinsi Aceh, Banda Aceh, Selasa (25/2/2024).(Foto: Antara/Nurul Hasanah).
Direktur Yayasan HAkA, Farwiza Farhan, dan Sekretaris Yayasan HAkA Sumatera, Badrul Irfan (kiri) dan Kepala BPS Aceh, Ahmadriswan Nasution, saat penyerahan buku berjudul “Dua Dekade Deforestasi Aceh: Dari Hilangnya Hutan hingga Penurunan Kesejahteraan” ke Pemerintah Aceh yang diwakilkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, A. Hanan, di Aula BPS Provinsi Aceh, Banda Aceh, Selasa (25/2/2024). (Foto: Antara/Nurul Hasanah).


Aceh Selatan jadi penyumbang deforstasi terbesar, sementara kawasan
konservasi seperti KEL dan Suaka Margasatwa Rawa
Singkil terus mengalami tekanan.

koranaceh.net | Banda Aceh – Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) kembali
merilis hasil pemantauan terbaru mengenai kondisi hutan di Aceh sepanjang
tahun 2024. Berdasarkan analisis citra satelit dan verifikasi lapangan, Aceh
kehilangan tutupan hutan seluas 10.610 hektare sepanjang tahun ini. 
Angka
tersebut mengalami peningkatan 19 persen atau setara dengan 1.705 hektare
dibandingkan tahun 2023.

Pemantauan ini dilakukan menggunakan metode penginderaan jarak jauh dengan
interpretasi visual manual citra satelit seperti Landsat 8, Sentinel 2, dan
Planet Scope, serta data peringatan dini kehilangan pohon (Glad Alert) dari
Global Forest Watch (GFW).


Baca Juga:

Pentingnya Penyelamatan Hutan

Hasil analisis kemudian diverifikasi lebih lanjut di lapangan dengan
bantuan drone dan citra satelit resolusi tinggi seperti
Planetscope dan Google
Earth
Manager GIS Yayasan HAkA, Lukmanul Hakim, menyebutkan bahwa Kabupaten Aceh
Selatan masih menjadi daerah dengan tingkat kehilangan tutupan hutan tertinggi
selama tiga tahun terakhir.

“Kami memperkirakan Aceh Selatan telah kehilangan tutupan hutan seluas 1.357
hektare sepanjang 2024,” ujar Lukmanul, dikutip dari
Antara, dalam acara
peluncuran buku dan talkshow

Dua Dekade Deforestasi Aceh: dari Hilangnya Hutan hingga Menurunnya
Kesejahteraan

di Aula BPS Provinsi Aceh, pada Selasa, (25/2/2025).

Selain Aceh Selatan, Aceh Timur menjadi kabupaten dengan kehilangan hutan
terbesar kedua, mencapai 1.096 hektare, disusul oleh Kota Subulussalam dengan
luas kehilangan 1.040 hektare.


Baca Juga:

Walhi Aceh: Penambangan Liar Hingga Industri Jadi Sebab Utama Perubahan
Iklim di Aceh

Deforestasi yang terus meningkat ini memberikan dampak serius terhadap kawasan
konservasi di Aceh, terutama di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan Taman
Nasional Gunung Leuser (TNGL). Keduanya merupakan habitat bagi satwa langka
seperti Orangutan Sumatra, Badak Sumatra, Gajah Sumatra, dan Harimau Sumatra.

Pada tahun 2024, kehilangan hutan di KEL meningkat sebesar 17,41 persen atau
845 hektare dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu kawasan yang paling
terancam adalah Suaka Margasatwa Rawa Singkil, yang terus mengalami
pengurangan tutupan hutan setiap tahunnya. Secara akumulatif, dari 2020 hingga
2024, hutan di SM Rawa Singkil telah berkurang seluas 2.181 hektare.

Peningkatan deforestasi ini mengindikasikan tekanan besar terhadap ekosistem
hutan Aceh, baik akibat aktivitas ilegal maupun ekspansi penggunaan lahan. 
Perlunya mitigasi yang lebih kuat dan penegakan hukum yang ketat menjadi
langkah mendesak agar kawasan hutan, terutama yang memiliki nilai ekologis
tinggi, tetap terjaga.