EkbisSorotan Editor

Sling Kabel Listrik Tumpuan Ekonomi Desa Terisolir Aceh Tengah

×

Sling Kabel Listrik Tumpuan Ekonomi Desa Terisolir Aceh Tengah

Sebarkan artikel ini
Seorang warga menyeberangi sungai menggunakan sling kabel manual, Sabtu (3/1/2026). Sling kabel manual ini menjadi satu-satunya akses untuk mengangkut logistik warga di wilayah yang akses jembatannya masih terputus. (Foto: Dok. Pemkab Aceh Tengah/KoranAceh.Net).
Seorang warga menyeberangi sungai menggunakan sling kabel manual, Sabtu (3/1/2026). Sling kabel manual ini menjadi satu-satunya akses untuk mengangkut logistik warga di wilayah yang akses jembatannya masih terputus. (Foto: Dok. Pemkab Aceh Tengah/KoranAceh.Net).

Warga Aceh Tengah gunakan kabel PLN sebagai sling angkut hasil tani. Jalur ini jadi tumpuan ekonomi desa terisolir akibat jembatan putus.

KoranAceh.Net | Aceh Tengah – Warga sejumlah desa di Kabupaten Aceh Tengah masih menggunakan kabel listrik PLN sebagai sling untuk menyeberangi sungai. Alat darurat ini menjadi satu-satunya jalur mobilisasi ekonomi untuk mengangkut hasil tani di tengah putusnya akses darat akibat longsor.

Pemanfaatan kabel tersebut terpantau di Desa Kekuyang, Burlah, Bintang Pepara, dan Buge Ara. Warga menggunakannya untuk mendistribusikan komoditas seperti durian, cabai, kopi, hingga beras ke pasar. Tanpa sarana ini, hasil panen tertahan di lokasi yang terisolir.

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, meninjau kondisi tersebut saat mengunjungi pengungsian di SMP Negeri 32 Ketol, Sabtu (3/1/2026). Ia mencoba menyeberangi sungai menggunakan sling manual untuk memeriksa fungsi alat tersebut.

“Ada enam titik sling yang digunakan masyarakat saat ini, tapi semuanya tidak layak dan masih manual sekali,” ujar Haili. Menurutnya, pemulihan akses darat menjadi prioritas karena distribusi logistik dan bantuan saat ini masih bergantung pada transportasi udara dan sling kabel.

Putusnya jembatan dan badan jalan akibat bencana memaksa warga mengandalkan kabel yang membentang di atas sungai berarus deras. Selain hasil bumi, beras dan bantuan logistik masuk ke desa melalui jalur yang sama.

Gunawan, warga Kampung Kekuyang yang mengoperasikan tali sling, menyebut alat tersebut sering mengalami kerusakan. Kabel yang digunakan memiliki ukuran kecil sehingga rentan putus saat menahan beban.

“Yang ada sekarang kecil, tidak cocok, cepat rusak. Kadang seminggu sudah pecah. Tadi juga sempat ada yang jatuh,” kata Gunawan kepada Bupati. Ia menjelaskan bahwa insiden jatuhnya angkutan disebabkan oleh keterbatasan spesifikasi alat.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menyatakan telah menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat terkait kondisi ini. Bupati meminta pengiriman sling berkapasitas besar dengan standar keamanan sebagai solusi transisi sebelum pembangunan infrastruktur permanen dimulai.

“Kami sampaikan langsung ke Bapak Presiden dan Bapak Menteri. Di sana ada lima desa yang kondisinya cukup berat jalan longsor, jembatan runtuh,” ucap Haili.

Upaya ini ditujukan agar roda ekonomi di desa terisolir tetap bergerak. Selama jembatan belum dibangun kembali, pengadaan sling yang memadai menjadi instrumen utama untuk mencegah macetnya distribusi hasil pertanian dan meminimalkan risiko kecelakaan bagi warga. []