Selasar

Menembus Kem: Lumpur, Napas, dan Bertahan Hidup

×

Menembus Kem: Lumpur, Napas, dan Bertahan Hidup

Sebarkan artikel ini
Warga memanggul logistik melintasi jalur lumpur di Desa Kem, Bener Meriah, Jumat (12/12/2025), setelah longsor memutus akses darat menuju Aceh Utara. (Foto: Dok. Posko Rakyat/KoranAceh.Net).
Warga memanggul logistik melintasi jalur lumpur di Desa Kem, Bener Meriah, Jumat (12/12/2025), setelah longsor memutus akses darat menuju Aceh Utara. (Foto: Dok. Posko Rakyat/KoranAceh.Net).

Ribuan penyintas menembus jalur lumpur di Desa Kem, Bener Meriah, pascalongsor yang memutus akses darat. Tanpa posko kesehatan, warga mempertaruhkan fisik demi membawa logistik dan bertahan hidup.

KoranAceh.Net | Selasar – Langkah pertama selalu yang paling berat. Di Desa Kem, Kecamatan Permata, Jumat (12/12/2025) lalu, sepatu warga langsung tenggelam di lumpur setinggi betis. Tanah masih basah. Dinding longsor belum benar-benar diam. Namun arus manusia tak pernah berhenti. Setiap hari, ribuan penyintas menembus jalur setapak yang tersisa—satu-satunya akses darat penghubung Bener Meriah dan Aceh Utara.

Mereka berjalan hingga sepuluh kilometer. Tanpa pilihan lain. Jalan utama tertutup longsor. Kendaraan hanya bisa diparkir jauh sebelum titik terparah. Selebihnya ditempuh dengan kaki, atau dengan mendorong sepeda motor yang tersangkut kubangan. Barang bawaan dipanggul: beras, minyak, susu, jeriken BBM, tabung gas. Bekal bertahan satu hari.

Di jalur itu, napas cepat habis. Wajah-wajah lelah mudah dikenali—mata cekung, langkah tertatih, bahu tegang menahan beban. Ada lansia yang harus digandeng turun-naik lembah lumpur. Ada ibu menggendong bayi sambil menenteng galon air. Ada pula anak muda yang bergantian mendorong motor, lalu menyerah dan memikul muatan dengan tangan kosong.

Di tengah lalu-lalang yang padat, satu hal mencolok: tidak ada posko kesehatan. Tidak ada tenaga medis berjaga.

Ketua Posko Rakyat, Mahlizar, mengatakan relawan menemukan banyak warga tiba di Kem dengan kondisi fisik menurun. “Lalu-lalang warga sudah seperti pasar. Banyak yang kelelahan bahkan jatuh sakit karena harus menempuh jalan setapak berlumpur hingga ke lutut,” ujarnya kepada KoranAceh.Net.

Keluhan yang muncul berulang: pusing, sesak napas, pegal ekstrem, kram otot. Beberapa penyintas terpaksa duduk di pinggir tebing tanah—di antara batu besar dan akar pohon yang tersingkap longsor—sekadar memulihkan tenaga. Obat-obatan sederhana nyaris tidak tersedia. Akses layanan kesehatan terdekat berada jauh di luar jangkauan jalur ini.

Risiko tak berhenti di kelelahan. Di beberapa titik, alat berat hanya membuka celah sempit di antara dinding tanah setinggi rumah. Motor-motor terjebak di kubangan sedalam lutut. Tanah masih labil. Hujan bisa turun sewaktu-waktu. Longsor susulan tak pernah bisa dipastikan.

Warga lalu beradaptasi. Mereka menjadi kuli panggul dadakan—mengangkat jeriken BBM, karung beras, dan logistik dari satu titik ke titik lain hingga bisa dipindahkan ke kendaraan roda empat. Setiap perpindahan menyimpan bahaya, tapi tak ada alternatif.

Arus manusia itu datang dari berbagai arah: Aceh Tengah, kawasan Lut Tawar, Jagong Jeget, Bandar, hingga permukiman di tepian hutan Bener Meriah. Semua menuju Kem—yang kini berfungsi sebagai gerbang bertahan hidup. Antrean kendaraan mengular. Sebagian warga bermalam di atas motor atau di bak truk, menunggu giliran menembus jalur lumpur.

Tanpa tenaga medis, Mahlizar menilai situasi ini rawan berubah menjadi krisis kemanusiaan. “Kami mengajak semua pihak terkait untuk segera membangun posko kesehatan di Kem. Relawan Posko Rakyat terus berupaya menghadirkan tenaga kesehatan untuk berjaga di posko yang sudah kami dirikan,” katanya.

Waktu tempuh yang memakan berjam-jam membuat risiko tumbang di jalan semakin besar. Luka lecet, dehidrasi, hipertensi, hingga serangan asma bisa terjadi kapan saja. Bagi penyintas yang telah kehilangan rumah, pekerjaan, atau anggota keluarga akibat banjir dan longsor, jalur ini adalah satu-satunya jalan untuk tetap hidup—meski dengan taruhan kesehatan.

Di sela lumpur dan kelelahan, solidaritas masih menyala. Warga saling menarik motor, berbagi air minum, mengangkat barang orang lain tanpa diminta. Namun gotong royong saja tak cukup. Kawasan Kem dan Gunung Salak membutuhkan intervensi cepat, terstruktur, dan berkelanjutan.

Sampai kapan warga harus berjalan di atas lumpur setinggi lutut demi mendapatkan beras? Berapa lama lagi lansia menembus bukit rawan longsor untuk mencari obat? Berapa banyak penyintas yang jatuh sakit sebelum posko kesehatan benar-benar berdiri?

Untuk kini, jalur Kem menjadi saksi bisu. Di tengah bencana, rakyat bertahan bukan karena kondisi memungkinkan—melainkan karena tidak ada pilihan lain. []