“Di Saat Langit Meruntuhkan Air Mata, Engkau Datang Menjadi Sandaran”
Wahai Panglima,
Dari lembah-lembah Gayo yang kini dipenuhi lumpur dan doa-doa yang patah, izinkan kami mengirim sehelai surat yang lahir dari dada kami yang sesak oleh cinta, haru, dan luka yang belum juga mengering.
Hari ini tanah kami tidak lagi sekadar basah. Ia remuk. Ia runtuh. Ia seakan kembali menjadi tanah pertama yang diciptakan: tanpa bentuk, tanpa warna, tanpa kepastian.
Di kampung-kampung kami, rumah-rumah yang semula berdiri tegak kini tak lebih dari papan-papan patah yang menunggu disentuh belas kasih. Jalan raya yang selama ini menjadi nadi kehidupan kini terkubur, putus, hilang, seperti tidak pernah ada. Tebing-tebing sungai yang ratusan tahun menjadi pelindung justru ambruk, membawa bersama mereka kenangan lama—bahkan mayat-mayat yang kembali ke permukaan, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya murka alam ini.
Dan di tengah semua itu, kami melihat engkau. Bukan sebagai pejabat. Bukan sebagai sosok yang kami lihat di layar. Tapi sebagai manusia—yang ikut menangis saat menyaksikan rakyatmu kehilangan segalanya.
Wahai Panglima, Ada banyak orang yang datang hanya dengan kata-kata. Ada pula yang hadir hanya ketika kamera menyorot. Namun engkau datang sebelum publik tahu apa yang sedang kami derita. Engkau menginjak lumpur yang sama dengan kami.
Engkau mengangkat karung-karung bantuan, menembus rute yang bahkan kendaraan berat pun menyerah.
Engkau merangkul para ibu yang kehilangan dapur, kehilangan kasur, kehilangan tempat pulang. Engkau tidak sekadar hadir. Engkau menyatu dengan penderitaan kami. Di saat sebagian memilih memalingkan wajah,
Di saat sebagian lagi sibuk berdalih, Engkau melawan semuanya—blokade yang menutup jalur logistik, jalan yang terputus, cuaca yang memusuhi, bahkan rasa takut yang tak pernah engkau tunjukkan.
Kami melihat mata itu—mata seorang pemimpin yang memikul beban Aceh seperti memikul anaknya sendiri.
Kami melihat gerak itu—gerak seorang saudara yang tidak sanggup membiarkan rakyatnya lapar barang satu hari pun.
Kami melihat kesungguhan itu—kesungguhan yang membuat kami ingin berdiri lebih tegak meski tubuh kami lelah.
Engkau membuat kami percaya bahwa di negeri yang sedang diuji ini, masih ada pemimpin yang hatinya lembut seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang menangis untuk rakyat, yang tidak meninggalkan mereka pada saat paling gelap.
Wahai Panglima,
Ketahuilah: Kami, rakyat Aceh. Kami, masyarakat Gayo di dataran tinggi. Kami, yang sedang menjemput harapan dari balik reruntuhan…
Kami tidak akan melepaskan tanganmu. Kami berdiri di belakangmu. Kami bangga padamu.
Bencana ini terasa seperti beban yang tidak mungkin dipikul manusia, namun engkau memikulnya seperti amanah yang tidak boleh jatuh ke tanah. Engkau membuat kami percaya bahwa Aceh tidak sedang hancur—Aceh sedang diuji. Dan sering kali, Tuhan menguji hamba dan daerah yang ingin Ia tegakkan lebih tinggi.
Kami percaya suatu hari nanti, setelah tangis hari ini surut, Aceh akan bangkit. Bukan karena bangunan-bangunannya baru, tetapi karena hati pemimpinnya jujur.
Wahai Panglima,
Pertolongan Allah akan datang. Kami yakin. Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya yang tulus bekerja sendirian. Ia akan menggerakkan tangan-tangan lain, hati-hati lain, untuk memperbaiki alam yang terluka ini.
Dan hingga hari itu tiba, izinkan kami mengirimkan surat cinta ini sebagai penguat langkahmu— sebagai tanda bahwa dari pedalaman yang jauh, dari rumah-rumah yang kini tinggal kenangan, ada rakyat yang mencintaimu tanpa syarat.
Kami bangga padamu, Panglima. Kami bersamamu sampai Aceh pulih. Sampai Aceh tersenyum lagi.
Tgk. Idris Arami dari Pedalaman Gayo Lues

