AcehUtama

Khawatir Logistik Hilang, Mualem Turun Langsung Pantau Bantuan di Krueng Geukueh

×

Khawatir Logistik Hilang, Mualem Turun Langsung Pantau Bantuan di Krueng Geukueh

Sebarkan artikel ini
Gubernur Aceh Muzakir Manaf meninjau logistik bantuan pangan di Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara, pada Kamis (18/12/2025) lalu. (Foto: Dok. Pemerintah Aceh).
Gubernur Aceh Muzakir Manaf meninjau logistik bantuan pangan di Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara, pada Kamis (18/12/2025) lalu. (Foto: Dok. Pemerintah Aceh).

Gubernur Aceh pantau distribusi 700 ton bantuan logistik di Aceh Utara. Pengawasan ketat dilakukan guna mencegah kebocoran.

koranaceh.net | Aceh Utara – Kekhawatiran atas keamanan dan keutuhan bantuan kemanusiaan kembali mencuat menyusul sejumlah insiden yang mencederai distribusi logistik bencana di Aceh. Setelah kasus lenyapnya 80 ton logistik di Bener Meriah serta dugaan pemindahan paksa bantuan oleh pihak tertentu di Lhokseumawe, Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) kembali turun langsung memantau kedatangan bantuan berskala besar.

Mualem hadir langsung menyambut kedatangan KRI Surabaya 591 yang membawa bantuan kemanusiaan dari Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) di Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara, Kamis (18/12/2025).

Setibanya di pelabuhan, Mualem menaiki dan menyusuri kapal perang TNI AL tersebut untuk memastikan secara langsung jenis, jumlah, dan kondisi logistik yang dibawa, berupa bantuan pangan dan kebutuhan dasar bagi korban banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh.

Langkah pengawasan ketat ini dinilai tidak lepas dari pengalaman pahit sebelumnya. Di Bener Meriah, bantuan logistik dilaporkan menghilang hingga 80 ton, sementara di Lhokseumawe, sempat terjadi pemindahan paksa bantuan oleh pihak tertentu, yang memicu keresahan publik dan pertanyaan besar soal pengawasan distribusi.

Bahkan sebelumnya, Mualem sempat menjaga langsung bantuan yang masuk hingga larut malam di Lhokseumawe, sebagai bentuk tanggung jawab moral agar logistik benar-benar sampai ke tangan korban.

“Kita sudah banyak menerima bantuan, baik dari dalam negeri, luar negeri, maupun pemerintah pusat. Dan yang ini merupakan salah satu bantuan terbesar, dari Kementerian Pertanian dan Bapanas,” ujar Mualem di sela-sela peninjauan.

Ia menegaskan pentingnya pengawalan ketat agar bantuan tidak diselewengkan di tengah situasi darurat.

“Kita harap bantuan ini bisa diterima rakyat Aceh dengan baik dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya,” katanya.

Sementara itu, Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian, Irham Waroihan, menjelaskan bahwa KRI Surabaya 591 membawa bantuan logistik kemanusiaan langsung dari Jakarta menuju Aceh tanpa transit.

“Hari ini telah bersandar KRI Surabaya yang membawa barang logistik bantuan kemanusiaan dari Kementerian Pertanian dan Bapanas Peduli. Kapal ini langsung berangkat dari Jakarta ke Aceh,” jelas Irham.

Ia menyebutkan total bantuan yang dibawa mencapai sekitar 700 ton, yang akan didistribusikan untuk tiga provinsi terdampak banjir bandang, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Khusus untuk Aceh, bantuan tersebut diserahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) untuk didistribusikan ke wilayah terdampak.

Namun, publik kini menaruh perhatian besar pada transparansi dan pengawasan distribusi, agar kasus-kasus sebelumnya tidak terulang. Kehadiran langsung Gubernur Aceh di pelabuhan dinilai sebagai sinyal keras bahwa pemerintah daerah tidak akan mentolerir kebocoran logistik di tengah penderitaan rakyat.

Bagi korban banjir dan longsor, bantuan bukan sekadar angka di atas kertas—melainkan penopang hidup. Dan setiap karung yang hilang adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan. []