KolomUtama

Bur Ni Telong: Gunung yang Pernah Bicara, Kini Kembali Mengingatkan

×

Bur Ni Telong: Gunung yang Pernah Bicara, Kini Kembali Mengingatkan

Sebarkan artikel ini

KoranAceh.Net | Bener Meriah – Di jantung Dataran Tinggi Gayo, Gunung Bur Ni Telong berdiri tenang namun sarat ingatan. Bagi masyarakat Bener Meriah, gunung ini bukan sekadar lanskap alam, melainkan bagian dari sejarah panjang relasi manusia dan bumi yang tak selalu ramah.

Catatan kegunungapian menyebutkan bahwa sekitar dua abad lalu, pada awal abad ke-19, wilayah Bukit Barisan—termasuk kawasan Bur Ni Telong—telah dikenal sebagai zona gunung api aktif dengan dinamika bawah tanah yang kuat. Meski dokumentasi tertulis pada masa itu terbatas, arsip kolonial Belanda dan catatan geologi awal menyebut adanya aktivitas vulkanik, gempa-gempa lokal, serta perubahan morfologi kawah di sejumlah gunung Aceh bagian tengah.

Puncak ingatan historis Bur Ni Telong tercatat pada tahun 1924, ketika gunung ini mengalami erupsi freatik. Letusan tersebut tidak memuntahkan lava besar, namun semburan abu dan uap panas dari kawah menjadi penanda jelas bahwa gunung ini aktif secara geologis. Sejak saat itu, Bur Ni Telong tidak lagi meletus, tetapi juga tidak pernah benar-benar “tidur”.

Dalam perspektif mitigasi modern, jeda panjang tanpa erupsi bukanlah jaminan keselamatan. Justru, dalam ilmu kebencanaan, gunung api dengan periode dorman panjang dapat menyimpan energi besar di bawah permukaan. Hal inilah yang kini menjadi perhatian utama para ahli, seiring meningkatnya aktivitas kegempaan vulkanik sejak Juli 2025.

Peningkatan Gempa Vulkanik Dalam (VTA) yang berulang menandakan adanya pergerakan fluida atau magma di kedalaman. Ketika status Bur Ni Telong dinaikkan ke Level III (Siaga) pada akhir Desember 2025, keputusan tersebut bukanlah reaksi panik, melainkan hasil pembacaan ilmiah atas sinyal yang telah dikirim gunung ini selama berbulan-bulan.

{“data”:{“product”:”tiktok”}}

Sejarah mengajarkan bahwa banyak bencana besar terjadi bukan karena kurangnya teknologi, melainkan karena mengabaikan tanda-tanda alam dan ingatan kolektif masa lalu. Dua ratus tahun lalu, manusia hanya bisa mencatat dan bertahan. Hari ini, negara memiliki instrumen mitigasi, sistem peringatan dini, dan pengetahuan geologi yang jauh lebih maju.

Karena itu, imbauan pengungsian terbatas bagi warga Kampung Rembune dan Pantan Pediangan bukanlah bentuk ketakutan, melainkan penghormatan terhadap sejarah—bahwa Bur Ni Telong pernah berbicara, dan kini kembali mengingatkan.

Dalam konteks Aceh yang berulang kali diuji oleh bencana alam, kesiapsiagaan bukan pilihan, melainkan keharusan. Bur Ni Telong mengajarkan satu hal penting: gunung yang tampak diam, bisa saja sedang mengumpulkan suara di perut bumi.[]