Oleh :
Hamdan Budiman | *Jurnalis, Tinggal di Banda Aceh
Simbol memaksa tafsir tunggal, sering kali tanpa ruang klarifikasi. Saat simbol didahulukan dan dialog absen, konflik tinggal menunggu waktu.
KoranAceh.Net | Kolom – Dalam masyarakat yang majemuk dan sarat sejarah, simbol bukan sekadar tanda. Ia adalah ingatan, identitas, luka lama, sekaligus harapan. Bendera, seragam, slogan, atau gestur tertentu dapat memuat makna yang jauh melampaui bentuk fisiknya. Namun justru karena kekuatan itulah, simbol menjadi berbahaya ketika ia bergerak lebih cepat daripada dialog. Pada titik itu, konflik tidak lagi menjadi kemungkinan—ia hanya menunggu waktu.
Simbol bekerja dengan kecepatan emosi. Ia langsung menyentuh rasa memiliki, harga diri, dan trauma kolektif. Berbeda dengan dialog yang menuntut kesabaran, penjelasan, dan kemauan untuk mendengar, simbol melompat langsung ke kesimpulan. Ia memaksa tafsir tunggal, sering kali tanpa ruang klarifikasi. Ketika sebuah simbol dikedepankan sebelum ada kesepakatan makna bersama, yang terjadi bukan komunikasi, melainkan benturan persepsi.
Baca Juga :
Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa konflik besar sering diawali oleh gesekan kecil yang bersifat simbolik. Sebuah bendera yang dinaikkan atau diturunkan, sebuah pernyataan singkat yang diucapkan tanpa konteks, atau tindakan aparat yang dibaca sebagai penghinaan—semuanya dapat menjadi pemantik. Bukan karena tindakan itu berdampak langsung secara material, melainkan karena ia menyentuh lapisan terdalam dari identitas. Di sanalah api mudah menyala.
Masalahnya bukan pada simbol itu sendiri, melainkan pada absennya dialog yang mendahuluinya. Dialog adalah kerja lambat. Ia membutuhkan pengakuan atas keragaman tafsir, kesediaan untuk mengurai sejarah, dan keberanian untuk mengakui kesalahan. Dialog juga menuntut kesetaraan posisi: mendengar tanpa ancaman, berbicara tanpa rasa takut. Ketika dialog absen, simbol kehilangan penyangga etikanya dan berubah menjadi alat provokasi—disengaja atau tidak.
Dalam konteks negara-bangsa, kegagalan mengelola simbol adalah kegagalan mengelola kepercayaan. Negara yang kuat bukan negara yang cepat bereaksi terhadap simbol dengan pemaksaan, melainkan negara yang mampu menunda respons koersif demi membuka ruang bicara. Sebab setiap tindakan keras atas simbol yang belum didialogkan justru mengukuhkan kecurigaan: bahwa suara tidak didengar, bahwa makna dipaksakan dari atas.
Lebih jauh, media sosial mempercepat pergerakan simbol tanpa menyertakan kedalaman dialog. Potongan gambar dan video beredar lebih cepat daripada klarifikasi. Emosi kolektif terbangun dalam hitungan menit, sementara penjelasan datang terlambat. Di ruang digital, simbol menjadi viral; dialog tenggelam. Akibatnya, konflik tak lagi memerlukan aktor besar—cukup kesalahpahaman yang dibiarkan membesar.
Karena itu, pelajaran pentingnya jelas: sebelum simbol dipertontonkan, dialog harus disepakati. Sebelum identitas ditegaskan, rasa aman harus dibangun. Mengelola simbol berarti mengelola waktu—kapan ia ditampilkan, dalam konteks apa, dan dengan bahasa apa. Ketika dialog didahulukan, simbol dapat menjadi jembatan. Ketika simbol mendahului dialog, ia berubah menjadi dinding.
Pada akhirnya, konflik jarang lahir dari perbedaan semata. Ia lahir dari kegagalan menjelaskan perbedaan itu dengan sabar. Selama simbol terus bergerak lebih cepat daripada dialog, kita hanya sedang menghitung mundur menuju benturan berikutnya. []







