Pernyataan bernuansa curiga “bangsa asing” muncul di tengah penanganan bencana Aceh–Sumatra. Narasi ini berisiko mengaburkan fokus kemanusiaan dan keselamatan rakyat.
koranaceh.net | Editorial – Di tengah duka mendalam akibat bencana ekologis yang melanda Aceh–Sumatra, publik dikejutkan oleh pernyataan bernuansa kecurigaan terhadap “bangsa asing” dalam forum resmi sidang kabinet. Pertanyaannya sederhana namun krusial: apakah benar ada negara atau bangsa asing yang tidak suka melihat Indonesia menjadi kuat?
Dan, lebih penting lagi, apakah tepat narasi semacam itu diucapkan secara terbuka ketika yang dibahas adalah penanganan darurat bencana dan keselamatan rakyat?
Baca Juga:
Aceh–Sumatra dan Bencana Ekologis: Ketika Negara Gagal Membaca Akar Masalah
Secara geopolitik, persaingan antarnegara adalah fakta. Setiap negara memiliki kepentingan. Namun menarik garis lurus dari realitas itu menuju kecurigaan dalam konteks bantuan kemanusiaan adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Dalam urusan bencana, hukum internasional—dan nurani kemanusiaan—berdiri di atas prinsip humanitarian imperative: menolong korban tanpa prasangka, tanpa agenda tersembunyi, dan dengan penghormatan pada kedaulatan negara penerima.
Pernyataan bernada curiga di ruang kabinet, apalagi disampaikan terbuka ke publik, berisiko mengaburkan fokus utama: menyelamatkan nyawa, memulihkan kehidupan, dan mempercepat normalisasi bagi rakyat terdampak.
Warganet mengingatkan dengan bahasa lugas: kalau kita tak mampu, mengapa menyalahi negara lain? Kritik ini patut didengar. Introspeksi justru merupakan ciri negara yang kuat—berani mengakui keterbatasan, lalu mengorganisasi solusi.
Aceh memiliki memori kolektif yang jelas. Bantuan internasional pascatsunami dulu hadir sebagai wujud solidaritas global, menyelamatkan jutaan orang, dan membangun kembali harapan. Menghargai jasa itu bukan berarti menggadaikan kedaulatan. Negara tetap berdaulat menentukan mekanisme, ruang lingkup, dan pengawasan bantuan. Yang ditolak seharusnya agenda politik, bukan empati kemanusiaan.
Baca Juga:
Ulama Aceh Desak Negara Hadir Penuh: Bencana Bukan Sekadar Statistik, Tapi Ujian Moral Kepemimpinan
Dalam hidup bertetangga—antarbangsa sekalipun—tolong-menolong adalah kebajikan universal. Menutup pintu pada niat baik justru berpotensi memperpanjang penderitaan rakyat. Berbaik sangka bukan kelemahan; ia adalah strategi kemanusiaan yang efektif ketika waktu adalah nyawa. Transparansi, koordinasi, dan akuntabilitas adalah jawaban atas kekhawatiran, bukan kecurigaan yang digeneralisasi.
Akhirnya, editorial ini mengajak semua pihak untuk menurunkan tensi narasi, menaikkan kualitas tata kelola. Bencana ekologis bukan panggung retorika, melainkan ujian kepemimpinan. Fokuslah pada fakta lapangan, akui celah kapasitas, rangkul solidaritas global dengan kepala tegak, dan pastikan rakyat segera kembali hidup normal. Di situlah ukuran kekuatan negara sesungguhnya. []







