Wagub Aceh ajak investor Hangzhou tanam modal di sektor perikanan dan energi.
koranaceh.net –
Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menggelar pertemuan bersama perwakilan Hangzhou
Chamber of Commerce Indonesia guna mempromosikan berbagai potensi unggulan
Aceh, pada Kamis malam, 1 Maret 2025.
Pertemuan ini turut dihadiri oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda
Aceh, Zulkifli, serta jajaran Kepala SKPA terkait lainnya.
Kegiatan
berlangsung di Aula Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh dan dihadiri langsung oleh
Sekretaris Jenderal Hangzhou Chamber of Commerce, Lucita, bersama sejumlah
calon investor asal Tiongkok.
Baca Juga :
Aceh Jajaki Investasi Sektor Agribisnis dan Industri Kelapa Sawit Bersama
PT Flora Agung
Dalam paparannya, Fadhlullah—yang akrab disapa Dek Fadh—menggambarkan Aceh
sebagai wilayah strategis yang kaya sumber daya alam namun belum tergarap
optimal akibat keterbatasan infrastruktur ekspor.
Ia menyoroti potensi sektor
kelautan, perikanan, perkebunan, energi, dan pertambangan sebagai peluang
besar yang layak dikembangkan.
“Lebih 58 ribu kilometer persegi luas wilayah Aceh dan kami dikelilingi laut,
potensi kelautan dan perikanan kami sangat tinggi dan menjadi salah satu yang
terbaik. Namun, selama ini hasil laut kami diekspor melalui Medan. Ini menjadi
salah satu keterbatasan kami,” ujar Wagub.
Ia pun mengajak investor asal Hangzhou untuk terlibat membangun pelabuhan
ekspor agar hasil laut Aceh tidak lagi tergantung pada jalur luar daerah.
“Akan sangat tepat jika teman-teman dari Hangzhou berinvestasi di sektor ini
serta membangun pelabuhan untuk kebutuhan ekspor,” imbuhnya.
Tidak hanya sektor perikanan, Wagub juga menyoroti persoalan ekspor minyak
kelapa sawit (CPO) yang selama ini harus dikirim ke provinsi tetangga karena
Aceh tidak memiliki kilang penyulingan sendiri.
“Semua CPO dikirim via darat ke provinsi tetangga. Ini mengakibatkan jalanan
Aceh menjadi rusak, dan Sumatera Utara kembali mendapatkan imbas ekonomi yang
besar dengan ketiadaan refinery CPO di Aceh,” ungkap Wagub.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, wilayah barat dan selatan Aceh kaya akan bijih
besi, emas, galena, timah, hingga tembaga. Sedangkan wilayah tengah merupakan
pusat cadangan emas. Di sektor energi, Aceh memiliki sumber daya dari sungai,
air terjun, hingga panas bumi (geothermal).
Menurutnya, Aceh tidak semestinya masuk daftar daerah termiskin di Sumatera.
“Jika menilik dari letak geografis, sebenarnya kami tidak mungkin menjadi
daerah termiskin di Pulau Sumatera, karena letak kami di ujung barat
Indonesia,” katanya.
Ia menyebut, dua hal besar yang turut menghambat perkembangan Aceh adalah
sejarah konflik panjang dan tsunami.
“Mengapa Aceh jadi daerah miskin? Ini
disebabkan karena sejarah Aceh yang berada dalam suasana konflik selama 32
tahun dan tsunami yang menjadi bencana terbesar dunia,” sambung Dek Fadh.
Baca Juga :
Wagub Aceh Tekankan Pentingnya Dana Otsus dan Revisi UUPA di RDP Komisi
II DPR RI
Wagub juga menyampaikan bahwa persepsi Aceh sebagai daerah konflik masih
menjadi penghalang masuknya investasi.
“Citra daerah konflik masih erat
melekat. Ini tentu menjadi salah satu alasan kenapa orang enggan berinvestasi
di Aceh. Padahal, Aceh merupakan daerah dengan angka kriminal yang rendah di
Indonesia,” ucapnya.
Dalam suasana politik yang harmonis, ia menekankan sinergi antara pemerintah
pusat dan daerah.
“Pak Gubernur kita merupakan Dewan Pembina Partai Gerindra,
sedangkan saya selaku Wakil Gubernur merupakan Ketua Partai Gerindra Aceh.
Dan, Presiden kita merupakan Ketua Umum Partai Gerindra,” jelasnya.
“Keselarasan dan sinergi pusat dan Aceh ini tentu menjadi modal dan peluang
tepat bagi siapa saja yang ingin berinvestasi di Bumi Serambi Mekah,” tegas
Wagub.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan iklim
investasi yang aman dan mendukung.
“Masyarakat Aceh itu ramah dan sopan. Kami
menggaransi bahwa Aceh aman dan nyaman serta siap menyambut para investor,”
ujarnya. “Pesan saya, ajak dan bawa investor dan berinvestasilah di Aceh,”
tukas Fadhlullah.
Menanggapi ajakan tersebut, Sekretaris Jenderal Hangzhou Chamber of Commerce,
Lucita, mengaku awalnya banyak calon investor yang ragu untuk datang ke Aceh
karena persepsi negatif yang melekat.
Namun, kunjungannya ke sejumlah daerah
di Aceh, termasuk Sabang, justru mengubah pandangan tersebut.
“Saya sudah lebih dulu datang ke Aceh, sempat ke beberapa daerah, termasuk
Sabang. Bagi saya, Aceh adalah sebuah berlian yang belum dipoles. Karena itu,
saya mengajak teman-teman berinvestasi di Aceh,” ujar Lucita.
Baca Juga :
Wagub Fadhlullah Terima Silaturahmi Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah
Aceh
Ia menambahkan, saat ini sudah ada puluhan investor yang tertarik, terutama di
bidang perikanan.
“Mr Wang sangat berminat pada cumi, lobster dan tripang,
jika ada pelabuhan ekspor dari Aceh tentu sangat bagus. Saat ini sudah ada 10
perusahaan yang ingin berinvestasi di Aceh, khususnya di bidang perikanan,”
jelasnya.
Lucita juga menyebut sektor agrobisnis menjadi salah satu target investasi
mendatang. Untuk memperkuat kerja sama, ia mendorong agar ada perjanjian resmi
antara Pemerintah Aceh dan Hangzhou Chamber of Commerce.
“Mr Wang ingin adanya
perjanjian kerjasama resmi antara Pemerintah Aceh dengan Hangzhou Chamber of
Commerce, agar Mr Wang bisa menyampaikan hal ini dengan teman-teman investor
di Hangzhou,” pungkasnya. [*]







