Pasar Kuala Simpang di Aceh Tamiang mulai beroperasi kembali usai banjir. Pedagang bangkit perlahan di tengah proses pembersihan.
KoranAceh.Net | Aceh Tamiang – Aktivitas perdagangan di Pasar Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, mulai berangsur pulih setelah banjir sempat melumpuhkan denyut ekonomi di kawasan tersebut. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebagian besar lapak kembali dibuka seiring surutnya air dan pembersihan material lumpur yang terus berlangsung.
Pemulihan pasar berlangsung bertahap. Hingga 1 Januari 2026, progres pembersihan fisik dilaporkan telah mencapai sekitar 90 persen. Jika cuaca mendukung, pembersihan ditargetkan rampung pada Sabtu (3/12/2025). Upaya ini melibatkan lintas sektor, mulai dari dinas daerah, TNI, BNPB, hingga Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN).
Kendati begitu, aktivitas di pasar masih bergerak pelan. Lumpur masih tersisa di sejumlah lorong, parit belum sepenuhnya bersih, dan sebagian pedagang masih menata ulang lapaknya. Namun, transaksi mulai terjadi, meski belum seramai kondisi normal.
Surahim, tukang sepatu asal Desa Bukit Rata, Kuala Simpang, menjadi salah satu pedagang yang kembali membuka toko. Ia mengisahkan saat banjir melanda, pasar nyaris lumpuh total. Akses jalan terputus dan pedagang diminta tidak mendekati area pasar demi keselamatan. “Waktu itu benar-benar tidak bisa apa-apa,” ujarnya.
Setelah air surut, Surahim kembali ke tokonya untuk memeriksa barang dagangan. Sejumlah sepatu masih bisa diselamatkan. Ia kemudian menjual sepatu pacul atau sepatu bot karet, yang banyak dibutuhkan satuan tugas dan warga untuk membersihkan lumpur pascabanjir. Selama hampir sepekan, ia membersihkan toko secara bertahap sambil tetap melayani pembeli.
Surahim sempat berjualan di bagian depan pasar karena arus pembeli lebih ramai. Namun ia memilih kembali ke toko agar bisa melanjutkan pembersihan. Meski bantuan kebutuhan dasar sudah diterima dari pemerintah dan perangkat desa, ia menilai pemulihan pasar belum sepenuhnya selesai. “Parit-parit di lorong lain masih perlu dibersihkan supaya aktivitas benar-benar normal,” katanya.
Di tengah proses bangkit itu, Surahim berharap ada dukungan berkelanjutan dari pemerintah, terutama terkait beban utang modal pedagang. Menurut dia, kondisi krisis pascabencana membuat banyak pedagang kesulitan memenuhi kewajiban tersebut.
Pemerintah daerah menyatakan tidak hanya fokus pada pembersihan fisik. Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (Kadiskopukmdag) Kabupaten Aceh Tamiang, Ibnu Azis, mengatakan langkah pemulihan ekonomi bagi pelaku UMKM terdampak tengah disiapkan. Melalui Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah akan menghadirkan Klinik UMKM Bangkit.
Program tersebut mencakup pendampingan usaha, suntikan modal, hingga penghapusan utang bagi UMKM terdampak, dengan skema yang disesuaikan dengan skala kerugian. Langkah ini diharapkan mempercepat pemulihan ekonomi Pasar Kuala Simpang dan membantu pedagang menata kembali usahanya.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., dalam keterangan resminya menegaskan bahwa pemulihan pasar menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pascabencana. Kembalinya aktivitas di Pasar Kuala Simpang dinilai krusial untuk menggerakkan kembali roda perekonomian lokal.
Meski pasar mulai hidup, pemulihan masih menyisakan pekerjaan rumah. Normalisasi drainase, pembersihan menyeluruh, serta dukungan ekonomi jangka menengah akan menentukan seberapa cepat Pasar Kuala Simpang benar-benar pulih dari dampak banjir. []







