Banjir merusak delapan jembatan dan tujuh irigasi serta mengancam ekonomi warga Bireuen akibat ribuan hektare sawah tidak produktif.
KoranAceh.Net | Bireuen – Delapan jembatan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan kini tak lagi utuh. Infrastruktur vital ini rusak parah diterjang banjir besar yang melanda Kabupaten Bireuen pada akhir November 2025 lalu. Titik kerusakan tersebar mulai dari Cot Ara, Pante Lhong, Teupin Reudeup, hingga Pante Peusangan.
Bukan hanya akses transportasi, urat nadi pertanian warga juga terputus. Tujuh infrastruktur irigasi dilaporkan rusak serius. Salah satu yang paling terdampak adalah Bendung Irigasi Pante Lhong. Selama ini, bendung tersebut menjadi tumpuan bagi 6.000 hektare lahan sawah di wilayah tersebut.
“Kalau ini tidak segera ditangani, dampaknya sangat besar. Pendapatan petani menurun, produksi pangan terganggu, dan risiko kemiskinan semakin tinggi,” ujar Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, dalam acara “Ngopi Pagi” bersama pers di Meuligoe Bireuen, Rabu (31/12/2025).
Menurut Mukhlis, hancurnya irigasi berdampak langsung pada produktivitas lahan. Dari total 15 ribu hektare sawah di Bireuen, hampir separuhnya kini tidak lagi produktif. “Sekitar 2.000 hektare sawah rusak berat dan tertimbun sedimen,” ungkap Mukhlis.
Meski akses ke wilayah terisolasi diklaim telah terbuka kembali melalui kerja sama lintas sektor dan jumlah pengungsi mulai berkurang, pemerintah daerah masih menghadapi pekerjaan besar dalam pemulihan. Ketersediaan pangan, air bersih, serta stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi tantangan.
Kerusakan infrastruktur ini menjalar ke sektor permukiman. Data sementara, kata dia, mencatat sekitar 16 ribu unit rumah warga terdampak. Dari jumlah itu, lebih dari 3.000 unit rusak berat, bahkan sebagian dilaporkan hilang tersapu arus banjir.
Kondisi ini menempatkan ekonomi Bireuen dalam posisi sulit. Mukhlis mengakui bahwa penurunan pendapatan petani dan terganggunya produksi pangan berpotensi memicu lonjakan angka kemiskinan. Tanpa penanganan cepat terhadap irigasi, petani hanya bisa bergantung pada curah hujan yang tidak menentu.
“Pelayanan yang kami berikan mungkin belum sempurna, tetapi kami terus berupaya agar dapur warga tetap mengepul. Pemulihan pascabencana ini sangat berat, terutama dari sisi ekonomi,” ujar Mukhlis.
Mukhlis menegaskan bahwa pemulihan sektor pertanian dan rekonstruksi jembatan tidak mungkin dilakukan sendirian. Dia mengharapkan dukungan langsung dari Pemerintah Pusat agar pertanian dan ekonomi masyarakat Bireuen dapat segera pulih. []







