BNPB mencatat 531 korban meninggal dan 31 hilang akibat banjir dan longsor di Aceh. Operasi pencarian masih akan terus dilakukan.
KoranAceh.Net | Banda Aceh – Jumlah korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor di Aceh bertambah menjadi 531 orang hingga 28 Desember 2025. Selain itu, 31 orang masih dinyatakan hilang dan 377.853 warga tercatat mengungsi.
Angka tersebut menjadi bagian dari total dampak bencana di tiga provinsi—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—yang secara keseluruhan mencatat 1.140 korban meninggal, 163 orang hilang, serta 399.172 pengungsi. Dengan komposisi itu, Aceh menyumbang hampir setengah korban jiwa dan lebih dari 90 persen jumlah pengungsi.
Penambahan jumlah korban terjadi setelah tim pencarian dan pertolongan menemukan dua jasad korban tambahan di Aceh. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, masing-masing jasad ditemukan di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Utara.
“Upaya pencarian masih terus dilakukan untuk menekan angka korban hilang sekecil mungkin,” kata Abdul Muhari dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi BNPB, Minggu (28/12/2025). Selama masih terdapat laporan orang hilang, ujarnya, operasi pencarian di Aceh belum akan ditutup.
Abdul menjelaskan, operasi pencarian kini difokuskan pada lokasi-lokasi yang masih diidentifikasi sebagai area potensial oleh tim SAR gabungan. Di luar area tersebut, peluang ditemukannya korban dinilai semakin kecil. “Di beberapa titik hampir dipastikan tidak ada jasad korban yang mungkin masih berada di kawasan permukiman atau pusat-pusat aktivitas warga,” ujarnya.
Dampak paling besar tercatat di Aceh Utara. BNPB melaporkan 213 orang meninggal dunia, 6 orang masih hilang, dan 166.920 warga mengungsi di wilayah tersebut. Aceh Tamiang berada di urutan berikutnya dengan 88 korban meninggal dan 114.987 pengungsi. Aceh Timur mencatat 57 korban meninggal dan 20.537 pengungsi.
Di wilayah lain, Kabupaten Bener Meriah mencatat 31 korban meninggal dan 14 orang hilang dengan 1.841 pengungsi. Kabupaten Bireuen melaporkan 39 korban meninggal, 3 orang hilang, dan 20.332 pengungsi. Pidie Jaya mencatat 29 korban meninggal dengan 14.794 pengungsi.
Wilayah tengah dan selatan Aceh juga terdampak. Aceh Tengah melaporkan 24 korban meninggal, 4 orang hilang, dan 11.791 pengungsi. Aceh Tenggara mencatat 13 korban meninggal, 1 orang hilang, dan 1.699 pengungsi. Kabupaten Gayo Lues melaporkan 5 korban meninggal tanpa laporan orang hilang, dengan jumlah pengungsi mencapai 21.249 jiwa. Kota Langsa dan Kota Lhokseumawe masing-masing mencatat 5 korban meninggal.
BNPB juga mencatat penurunan jumlah pengungsi dibanding hari-hari sebelumnya. Abdul Muhari menegaskan penurunan ini tak serta-merta menunjukkan pemulihan. “Sebagian warga yang sebelumnya mengungsi di titik-titik pengungsian kemungkinan kembali ke rumah masing-masing atau ke rumah kerabat dan saudara,” katanya.
Pemerintah, sambungnya, akan mendukung kelompok ini melalui skema Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga yang belum dapat kembali ke tempat tinggalnya. “Ini mungkin kembali kerumah masing-masing atau kerumah kerabat atau saudara. Nantinya ini akan kita dukung dengan dana tunggu hunian (DTH),” ucap Abdul.
Dalam perkembangan status kebencanaan, enam kabupaten/kota di Aceh telah menetapkan fase transisi darurat ke pemulihan, yakni Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Kota Subulussalam, Kota Langsa, Aceh Singkil, dan Kota Lhokseumawe. Kabupaten Aceh Besar masih dalam proses pengesahan surat keputusan untuk masuk ke fase tersebut.
Sementara itu, 11 kabupaten/kota lainnya memperpanjang status tanggap darurat, meliputi Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Utara, Aceh Timur, Bener Meriah, Aceh Tamiang, Nagan Raya, dan Kota Lhokseumawe. Dari jumlah tersebut, tujuh wilayah—Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues—dikategorikan sebagai daerah dengan dampak paling berat. []







