Dinkes Aceh laporkan pemulihan layanan kesehatan hari ke-22 bencana. Fokus pada 9 daerah terdampak, distribusi obat dan tenaga masih berlanjut.
KoranAceh.Net | Banda Aceh – Memasuki hari ke-22 pascabencana banjir dan longsor di Aceh, Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh memfokuskan penanganan kesehatan di sembilan wilayah terdampak paling berat. Sembilan daerah tersebut meliputi Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Langsa, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.
“Sembilan kabupaten/kota paling terdampak itu menjadi fokus utama kami. Kelompok rentan juga menjadi fokus kami, termasuk pemberian makanan tambahan,” ujar Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Aceh Ferdiyus, dalam konferensi pers pemutakhiran penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar, Jumat (19/12/2025).
Agar koordinasi respons berjalan cepat dan terukur, Dinkes Aceh, tutur Ferdiyus, juga telah membentuk Health Emergency Operation Center (HEOC) yang tersebar di empat kabupaten/kota, yakni Pidie Jaya, Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Langsa. HEOC ini berfungsi sebagai pusat kendali distribusi obat dan fasilitasi tenaga kesehatan di lapangan.
Distribusi logistik kesehatan, kata dia, dilakukan secara rutin dengan jeda waktu satu hari. Permintaan dari kabupaten/kota di luar sembilan wilayah prioritas tersebut tetap akan dilayani bila kondisinya mendesak dan membutuhkan penanganan segera.
Penambahan Relawan dan Tenaga Kesehatan
Dalam laporan yang sama, Ferdiyus menyebut Aceh juga menerima dukungan relawan kesehatan. Sebanyak 55 tim relawan, dengan total sekitar 539 tenaga kesehatan, telah diterjunkan dan difokuskan bekerja di sembilan kabupaten/kota itu. Tim ini akan berkolaborasi dengan posko-posko kesehatan yang dibentuk Pemerintah Aceh. “Nantinya mereka akan bekerja sama di lapangan,” kata Ferdiyus.
Ia menjelaskan, skema kerja tim kesehatan dilakukan dengan penugasan harian ke titik-titik pengungsian. Setiap tim dibekali pasokan obat dari Dinkes Aceh untuk disalurkan dan dimanfaatkan langsung di lokasi pengungsian. Pada sore hari, tim kembali ke posko kesehatan utama di masing-masing kabupaten/kota. “Baru sorenya mereka kembali ke posko kesehatan utama,” ujarnya.
Selain relawan, Dinkes Aceh juga melepas 33 tim Emergency Medical Team (EMT) terpadu dari HEOC Provinsi Aceh pada Senin (15/12/2025) lalu. Jumlah personel yang diberangkatkan mencapai sekitar 255 orang.
“Artinya, di lapangan saat ini sudah ada sekitar 794 tenaga kesehatan dari berbagai disiplin ilmu,” kata Ferdiyus. Tenaga kesehatan tersebut terdiri atas dokter umum, dokter spesialis, perawat, tenaga surveilans, sanitarian, serta tenaga kesehatan gizi.
Dinkes Aceh, lanjutnya, juga bakal mengirim tim kesehatan tambahan. Tim ini, rencananya diberangkatkan pada Senin (22/12/2025) dan bekerja sampai dengan Kamis (25/12/2025), bertepatan dengan berakhirnya masa tanggap darurat tahap kedua. Tim ini pun ditempatkan di sembilan kabupaten/kota yang menjadi prioritas pengananan kesehatan.
“Lebih kurang 100 orang lagi akan kita kirim,” ucapnya. Ini, sambung Ferdiyus, bertujuan agar tenaga kesehatan terdistribusi merata ke seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) atau Puskesmas yang masih lumpuh.
Kondisi Fasilitas Kesehatan
Terkait fasilitas kesehatan, Ferdiyus melaporkan dari total 65 rumah sakit di Aceh, hampir seluruh rumah sakit pemerintah telah kembali beroperasi normal. Pengecualian terjadi di RSUD Aceh Tamiang, yang belum dapat menjalankan layanan hemodialisis. “Seluruh alat hemodialisis di sana, ada 12 unit, terendam banjir,” ujarnya.
Meski demikian, pelayanan dasar di RSUD Aceh Tamiang tetap berjalan dengan dukungan dari RS Adam Malik Medan. Sementara itu, dari 309 Puskesmas di Aceh, masih terdapat 26 Puskesmas yang belum beroperasi di 6 kabupaten/kota. Di Aceh Tamiang 12 unit, Aceh Utara 5 unit, Bireuen 4 unit, Aceh Tengah 3 unit, dan Aceh Tenggara serta Aceh Timur masing-masing 1 unit.
Selain itu, ia juga melaporkan masih ada 3 rumah sakit swasta yang belum beroperasi. Diantaranya adalah RS Umum Pertamina Rantau di Aceh Tamiang, RSU Prima Inti Medika di Aceh Utara, dan RS Umum Ummi di Kota Langsa.
Untuk wilayah tengah Aceh, HEOC Provinsi Aceh tidak mengirimkan tim khusus. Penanganan kesehatan di kawasan ini dibantu oleh relawan dari luar daerah. Ferdiyus menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan RSUD Datu Beru Takengon di Aceh Tengah dan RSUD Muyang Kute Redelong di Bener Meriah.
Dari hasil koordinasi, ucap Ferdiyus, kedua rumah sakit itu masih dapat beroperasi normal sebab sumber daya manusia dan bangunan kedua rumah sakit tersebut tidak terdampak langsung oleh banjir atau longsor. Namun, gangguan akses logistik menimbulkan kekhawatiran terkait ketersediaan makanan dan minuman bagi pasien. “Mereka khawatir suplai makan dan minum tidak cukup,” ujarnya.
Sebagai respons, HEOC Provinsi Aceh mengirimkan tabung oksigen ke wilayah tengah pada Jumat pagi. Pengiriman dilakukan melalui jalur udara dari Lanud Sultan Iskandar Muda sekitar pukul 09.00 WIB, menyusul laporan bahwa RSUD Datu Beru hanya memiliki sisa 12 tabung oksigen. “Kita kirim 20 tabung oksigen. Sepuluh untuk RS Muyang Kute dan sepuluh untuk RS Datu Beru,” kata Ferdiyus.
Pemulihan layanan kesehatan di Aceh masih berlangsung dengan fokus terbatas pada wilayah prioritas. Seiring mendekatnya akhir tanggap darurat tahap kedua, distribusi tenaga dan logistik kesehatan masih menjadi salah satu variabel kunci dalam menjaga layanan dasar tetap berjalan di tengah akses dan fasilitas yang belum sepenuhnya pulih. []







