Data sementara banjir Aceh catat 35 korban meninggal, akses logistik darat di beberapa titik vital terputus, dan 799 menara telekomunikasi alami gangguan. Evakuasi berlanjut, korban jiwa berpotensi terus bertambah.
koranaceh.net | Banda Aceh – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh memburuk dengan catatan korban jiwa mencapai 35 orang dan 25 orang dinyatakan hilang hingga Jumat (28/11/2025) sore.
Situasi tanggap darurat di lapangan pun menghadapi kendala berat akibat lumpuhnya akses jalan nasional penghubung antar-kabupaten serta matinya ratusan infrastruktur telekomunikasi di wilayah terdampak.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengonfirmasi peningkatan jumlah korban tersebut.
“Untuk korban jiwa per sore ini data sementara ada 35 jiwa yang meninggal dunia, 25 hilang, dan 8 luka-luka. Pengungsi di seluruh Aceh per sore ini kami data ada 4.846 KK (kepala keluarga), itu tersebar di seluruh kabupaten/kota Aceh,” kata Suharyanto, dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube @bnpb_indonesia.

Ia merinci, korban meninggal diantaranya berasal dari Aceh Tengah (15 korban), Bener Meriah (13 korban), Aceh Tenggara (6 korban), Gayo Lues (1 korban), Subulussalam (1 korban), serta Lhokseumawe (1 korban). Adapun, korban hilang berasal dari Bener Meriah (13 orang), Aceh Tenggara (7 orang), Lhokseumawe (3 orang) dan Gayo Lues (2 orang).
Jumlah korban jiwa akibat banjir tersebut dapat bertambah seiring proses evakuasi yang kini terus dilakukan. “Ini masih proses pendataan. Ada beberapa kabupaten/kota yang masih terputus. Ini masih belum bisa tembus sampai seluruh kabupaten/kota di wilayah Aceh, Provinsi Aceh,” ujar Suharyanto.
Sebelumnya, pada Kamis (27/11/2025), Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan selama 18 November pukul 07.00 WIB hingga 27 November 2025 pukul 16.50 WIB, bencana ini secara akumulatif berdampak kepada 33.817 Kepala Keluarga (KK) atau 119.988 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20.759 jiwa (6.998 KK) harus mengungsi.
Akses Logistik Terputus
Distribusi bantuan logistik dan alat berat terhambat karena kerusakan infrastruktur vital. Akses jalan perbatasan Sumatera Utara menuju Aceh masih terputus total (hari ke-3) akibat material longsor yang menutup badan jalan nasional.
Di jalur lintas timur, konektivitas Banda Aceh menuju Lhokseumawe, Langsa, hingga Aceh Tamiang pun diwartakan lumpuh. Ambruknya jembatan di Meuredu, Pidie Jaya, mengakibatkan terputusnya akses penghubung vital dari arah Kabupaten Bireuen. Sebagai upaya sementara, pemerintah daerah mengalihkan lalu lintas melalui jalur alternatif Samalanga – Trienggadeng.
Kondisi lebih parah terjadi di wilayah tengah Aceh yang kini terisolasi total. Akses utama Jalan Nasional Bireuen – Takengon dilaporkan putus total. Selain itu, Jembatan Teupin Mane di Bireuen dan jembatan penghubung Aceh Tengah ke Nagan Raya juga dilaporkan runtuh.
Di wilayah tetangga, Kabupaten Gayo Lues pun terkurung. Ruas jalan nasional menuju Aceh Tenggara putus di empat titik, sementara jalan provinsi menuju Aceh Barat Daya dan Aceh Timur juga tak bisa dilalui. Akses Bener Meriah menuju Aceh Tengah dan Bireuen (eks jalan KKA) pun lumpuh.
Menyiasati isolasi ini, pemerintah mengandalkan jalur udara. Bandara Perintis di Gayo Lues dan Bandara Rembele di Bener Meriah kini menjadi pintu masuk utama untuk penyaluran bantuan dan personel.
Gangguan Telekomunikasi
Proses koordinasi dan pencarian korban semakin menantang akibat gangguan sinyal seluler yang masif. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bekerja sama dengan Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas II Banda Aceh, melaporkan banjir menyebabkan 799 menara telekomunikasi (site) atau sekitar 23,40 persen dari total infrastruktur seluler di Aceh menjadi tidak berfungsi (mati).
“Gangguan layanan telekomunikasi yang disebabkan oleh banjir telah berdampak pada matinya 799 site atau sekitar 23,40 persen dari total 3.414 site eksisting di Provinsi Aceh,” tulis Komdigi dalam siaran persnya, pada Kamis (27/11/2025).

Infrastruktur milik milik perusahaan telekomunikasi besar seperti Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata juga mengalami gangguan akibat terputusnya pasokan listrik dari PLN serta kerusakan pada sistem transmisi. Terlebih, terang Komdigi, upaya operator seluler menghidupkan menara menggunakan generator set (genset) pun terkendala lantaran akses jalan yang masih terendam banjir.
Wilayah dengan dampak telekomunikasi terparah meliputi Kabupaten Aceh Besar (40 menara), Kota Banda Aceh (29 menara), Kota Bireuen (27 menara), dan Kabupaten Pidie (26 menara). Gangguan juga tercatat di wilayah barat seperti Aceh Barat (12 menara) dan Aceh Barat Daya (8 menara).
Sebagai solusi darurat, tim BNPB telah memasang perangkat internet berbasis satelit, Starlink, di Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah untuk membuka kembali jalur komunikasi.
Respons Pemerintah: Modifikasi Cuaca hingga Bantuan Kompresor
Pemerintah menetapkan Posko Utama penanganan darurat di Tarutung, Tapanuli Utara, karena dinilai paling strategis untuk menjangkau tiga provinsi terdampak (Aceh, Sumut, Sumbar). Dari posko ini, tiga prioritas penanganan dijalankan.
Pertama, pemulihan akses darat dengan mengerahkan alat berat ke titik longsor dan jembatan putus. BNPB juga mengerahkan dua unit pesawat untuk mendukung penanganan banjir melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kedua, dukungan logistik. Pemerintah pusat mengerahkan 26 personel BNPB dan tiga pesawat Hercules yang membawa bantuan Presiden. Bantuan tersebut mencakup beras, gula, minyak, tenda, perahu karet (LCR), genset, hingga kompresor yang dibutuhkan untuk pembersihan pasca-banjir. Bantuan ini didistribusikan ke wilayah terisolasi menggunakan helikopter. Ketiga, pemulihan jaringan listrik dan komunikasi.
BNPB juga membuka saluran telepon khusus (hotline) di nomor 0811-6164-5500. Masyarakat yang kehilangan kontak dengan keluarga di lokasi bencana dapat melapor dengan menyertakan nama, usia, jenis kelamin, alamat, dan titik lokasi terakhir keluarga yang dicari untuk diteruskan kepada tim di lapangan.
Hingga berita ini terbit, pendataan kerusakan infrastruktur, pencarian korban meninggal dan korban hilang masih terus dilakukan. []




