Serangan intensif Israel di Gaza tewaskan 60 warga Palestina. Gempuran ini terjadi jelang Sidang Umum PBB.
koranaceh.net | Gaza – Militer Israel melanjutkan serangan udara dan darat secara intensif di berbagai wilayah Kota Gaza, pada Sabtu (20/9/2025), menewaskan sedikitnya 60 warga Palestina. Eskalasi militer ini terjadi hanya beberapa hari menjelang pertemuan tahunan para pemimpin dunia di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan rencana 10 negara untuk secara resmi mengakui kemerdekaan Palestina.
Menurut laporan otoritas kesehatan Gaza yang dilansir dari Reuters, Minggu (21/9/2025), korban tewas terus berjatuhan seiring Israel mengintensifkan operasinya. Serangan terbaru ini secara spesifik menargetkan gedung-gedung tinggi, terowongan bawah tanah, dan apa yang disebut militer Israel sebagai “struktur jebakan” di wilayah padat penduduk.
Secara taktis, pasukan Israel yang telah menguasai pinggiran timur Kota Gaza kini terus menggempur wilayah Sheikh Radwan dan Tel Al-Hawa. Wilayah-wilayah ini merupakan tempat berlindung bagi sebagian besar penduduk yang masih tersisa di Kota Gaza. Militer Israel memperkirakan telah menghancurkan hingga 20 blok menara di kota tersebut dalam dua minggu terakhir.
Waktu serangan ini menjadi sorotan internasional. Pada hari Senin (22/9/2025), 10 negara, termasuk negara-negara Barat seperti Australia, Belgia, Inggris, dan Kanada, dijadwalkan untuk secara resmi mengakui negara Palestina yang merdeka. Langkah diplomatik signifikan ini diambil menjelang pertemuan para pemimpin di Majelis Umum PBB minggu depan, di mana isu konflik Israel-Palestina diperkirakan akan menjadi salah satu agenda utama.
Di tengah gempuran, terjadi perang data mengenai jumlah warga sipil yang mengungsi. Militer Israel, menurut laporan media setempat, meyakini bahwa lebih dari 500.000 orang telah meninggalkan kota itu sejak awal September. Namun, klaim ini dibantah keras oleh kelompok militan Hamas yang menguasai Gaza. Hamas menyatakan sekitar 300.000 orang telah mengungsi, sementara sekitar 900.000 lainnya, termasuk sejumlah sandera asal Israel, masih terjebak di dalam kota.
Melalui kanal Telegram, sayap militer Hamas merilis gambar montase para sandera Israel, disertai peringatan bahwa nyawa mereka terancam akibat operasi militer Israel yang membabi buta. Hamas juga memperkirakan bahwa sejak 11 Agustus, serangan Israel telah menghancurkan atau merusak lebih dari 1.800 bangunan tempat tinggal dan menghancurkan lebih dari 13.000 tenda pengungsian.
Dalam konflik yang telah berlangsung selama hampir dua tahun ini, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina, menurut data otoritas kesehatan Gaza. Gempuran berkelanjutan tidak hanya menyebabkan krisis kemanusiaan dan kelaparan, tetapi juga telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur dan memaksa mayoritas populasi mengungsi berulang kali. [*]





